Potensi Pasar Modal Indonesia Sangat Besar, Belum Banyak Perusahaan Digital IPO

Aditya Pratama ยท Kamis, 17 September 2020 - 23:27 WIB
Potensi Pasar Modal Indonesia Sangat Besar, Belum Banyak Perusahaan Digital IPO

Webinar MNC Sekuritas Inspiration Talk: Digitalisasi Pasar Modal Indonesia. Kamis (17/9/2020)

JAKARTA, iNews.id - Potensi pasar modal Indonesia masih sangat besar. Di sisi lain belum banyak perusahaan digital melantai di bursa atau mencatatkan saham perdana (Initial Public Offering/IPO).

Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI) Pandu Sjahrir membandingkan BEI dengan New York Stock Exchange. 10 besar emiten di New York Stock Exchange pada 2008 adalah perusahaan energi, keuangan dan consumer goods. 

"Tahun 2020, 10 besar adalah perusahaan terkait teknologi," kata Pandu yang Presiden Komisaris SEA Group Indonesia dalam webinar MNC Sekuritas Inspiration Talk: Digitalisasi Pasar Modal Indonesia, Kamis (17/9/2020).

Sebagai informasi, SEA Group merupakan perusahaan yang menaungi perusahaan aplikasi digital Garena, Shopee sebuah e-commerce dan Sea Money, yaitu dompet digital. Sementara di Indonesia, kata Pandu, saat ini masih sama dengan 2008. 

"Ini kesempatan bagaimana kita introduce dari sisi suplai, companies yang berafiliasi teknologi," kata salah satu Dewan Komisaris Gojek ini.

Saat ini, lanjut Pandu, belum banyak perusahaan terkait teknologi di Indonesia yang masuk ke bursa. Padahal, perusahaan-perusahaan tersebut bila masuk bisa langsung terdaftar di LQ 45.

Dari sisi investor, putra dari ekonom Sjahrir ini menyebut, sudah ada 3,1 juta akun yang terdaftar di bursa dan didominasi investor lokal. Artinya, potensi pasar modal Indonesia masih sangat besar. 

"Hanya 1 koma sekian persen dari total populasi yang ada, ini kesempatan," kata Pandu. 

Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengatakan, pasar modal Indonesia saat ini sudah didominasi hampir 70 persen investor lokal. Artinya pasar Indonesia cukup kuat. 

"Pasar modal yang kuat itu kalau kekuatannya ditopang oleh investor lokal, yang lebih dominan daripada asing, karena asing itu kan come and go," ujarnya. 

Hary mengungkapkan, di era industri 4.0, perusahaan-perusahaan digital bertumbuh pesat dalam waktu cepat. "Tujuh besar perusahaan besar di dunia, semuanya digital atau digital related, yang umurnya mungkin belum lama," katanya.

Dia mencontohkan, Facebook yang baru 16 tahun, Tencent sekitar 20 tahun lebih. "Memang itulah karakteristik daripada industri 4.0, yang menyalip dari industri-industri yang sebelumnya," tuturnya. 

MNC Group juga sudah bermigrasi ke dunia digital. Sebagai contoh di bidang media, ada super apps RCTI+ yang menggabungkan lima segmen, yakni video streaming, news aggregator, audio aggregator, talent search hingga games aggregator. Selain itu, juga ada over the top (OTT) Vision+. 

Begitu pula di bidang keuangan, MNC Group memiliki Smart Payment Indonesia (SPIN), aplikasi superfintech ini melengkapi ekosistem jasa keuangan  MNC Group. Dengan produk uang elektronik (e-money), dompet elektronik (e-wallet) dan transfer dana elektronik (digital remittance). Selain itu, di bidang asuransi memiliki produk digital. 

Dengan adanya Pandu duduk di Komisaris BEI, Hary meyakini bursa akan semakin berkembang melalui digitalisasi. Prestasinya di bidang digital pun tak diragukan lagi.

Editor : Ranto Rajagukguk