Rupiah dalam Sepekan Menguat Signifikan, Begini Komentar Sri Mulyani

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Jumat, 09 November 2018 - 13:03 WIB
Rupiah dalam Sepekan Menguat Signifikan, Begini Komentar Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah selama sepekan menguat signifikan hingga berada di bawah Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, pada sesi siang ini rupiah kembali melemah 0,49 persen ke level Rp14.610 per dolar AS dari sesi terakhir kemarin Rp14.539 per dolar AS

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penguatan rupiah ini lebih disebabkan oleh faktor domestik. Pasalnya, indikator-indikator ekonomi Indonesia memperlihatkan angka yang cukup positif.

"Sebetulnya kita lihat, persepsi terhadap perekonomian. Selama 2018 ini, banyak yang bisa kita topang berdasarkan pondasi Indonesia. Indonesia perlu untuk terus mengembangkan mengenai pentingnya pondasi-pondasi ini," ujarnya di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (9/11/2018).

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat karena masih di atas 5 persen yaitu 5,17 persen pada kuartal III-2018. Dengan demikian, tingkat inflasi masih bisa dijaga untuk tetap rendah.

"Kemudian (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/APBN) kita menunjukkan postur yang masih sehat dan kredibel, pembiayaan defisit makin turun, belanja sektor rill masih maju. Penerimaan pajak, hampir semua sektor kontribusinya double digit growth-nya," ucapnya.

Kendati demikian, dia mengakui defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) sempat terpukul karena masifnya capital outflow kembali ke AS. Namun, dengan perkembangan politik global saat ini diharapkan pelaku pasar mulai merasionalisasi sikap yang akan diambilnya.

"Tapi tentunya sekarang dengan perkembangan politik yang ada, kita berharap akan muncul rasionalisasi dari pelaku ekonomi global. Mereka akan melihat  Indonesia berbeda," kata dia.

Menurut dia, para investor serta pelaku ekonomi melihat Indonesia berbeda dengan negara lain yang rentan. "Waktu saya di Singapura kemarin, kita juga bicara angka yang ada di Indonesia sangat positif. Jadi Indonesia tidak seharusnya masuk ke negara vulnerable (rentan)," tuturnya.


Editor : Ranto Rajagukguk