Rupiah Fluktuatif, BI Minta Pemerintah Perbaiki CAD

Rully Ramli ยท Jumat, 07 Desember 2018 - 18:12 WIB
Rupiah Fluktuatif, BI Minta Pemerintah Perbaiki CAD

Ilustrasi. (Foto: iNews.id/Yudistiro Pranoto)

JAKARTA, iNews.id - Rupiah pada pekan ini kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah sempat mencatatkan penguatan signifikan. Mata uang negara-negara berkembang tercatat juga mengalami kondisi serupa seiring greenback yang melaju positif. Namun, diketahui tekanan rupiah pada pekan ini menjadi yang paling besar se-Asia.

Menanggapi hal itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menjelaskan, selain terpengaruh tekanan global, terutama perang dagang AS-China, tekanan rupiah juga terjadi akibat kegiatan ekonomi dalam negeri. Saat ini, defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) Indonesia terus melebar sehingga rupiah mendapat tekanan yang cukup besar.

"Ya memang, pelemahan kurs Indonesia dan India memang lebih besar dari negara lain, karena kembali lagi sebagai negara yang ekspor impor barang jasanya defisit, atau current account deficit, pasar bereaksi lebih banyak untuk negara-negara yang defisit," kata Mirza, ditemui di kompleks BI, Jumat (7/12/2018).

Berdasarkan laporan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah melemah 32 poin menjadi Rp14.539 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.507 per dolar AS. Pekan lalu, rupiah sempat mengalami penguatan, di mana pada penutupam Jumat, rupiah berada di level Rp14.301 per dolar AS.

Karena itu, Mirza mengingatkan para pelaku pasar tidak terlena dengan penguatan yang sempat terjadi pekan lalu. Pemerintah juga diminta menyelesaikan masalah defisit transaksi berjalan, dengan mulai membatasi impor barang yang tidak diperlukan, dan kembali menggenjot ekspor.

"Kalau impor bahan yang kita perlu, seperti bahan pangan dan sebagainya, ya tetap perlu impor karena kalau enggak harganya akan naik, kalau produksi dalam negeri kurang," kata Mirza.

Meski begitu, Mirza optimistis pada 2019 kurs rupiah akan kembali menguat. Pasalnya, di tahun tersebut AS akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, sehingga arus modal masuk ke negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia.

"Nanti 2019 ekonomi Amerika Serikat melambat arus modal masuk ke emerging market. Pada saat ekonomi AS kencang, arus modal ke AS. Jadi, kalau kami lihat rupiah 2019 lebih stabil dan pasar keuangan juga akan lebih baik," tutur Mirza.


Editor : Ranto Rajagukguk