Transaksi DNDF Tembus 115 Juta Dolar AS, BI: Dorong Penguatan Rupiah

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Jumat, 09 November 2018 - 16:54 WIB
Transaksi DNDF Tembus 115 Juta Dolar AS, BI: Dorong Penguatan Rupiah

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) mencatat akumulasi volume transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) saat ini sebanyak 115 juta dolar Amerika Serikat (AS). Padahal, transaksi ini baru diberlakukan pada 1 November lalu.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, salah satu instrumen keuangan ini baik supply dan demand cukup berkembang dan seimbang. Dengan demikian, DNDF mampu memperdalam penetrasi pasar uang dalam negeri.

"Volume kalau sejak dikeluarkan DNDF itu volumenya akumulasi 115 juta dolar AS dan supply demand-nya juga sangat seimbang dan membaik yang kita lihat ini memang mekanisme pasar," ujarnya di Masjid BI, Jakarta, Jumat (9/11/2018).

Seiring dengan berlakunya instrumen ini, nilai tukar rupiah perlahan mengalami kenaikan yang signifikan sejak sepekan lalu hingga keluar dari level Rp15.000 per dolar AS. Meskipun penguatan ini juga disebabkan indikator ekonomi lainnya yang menunjukkan hasil baik termasuk kebijakan yang diambil pemerintah dan BI.

"Nilai tukar sejak minggu lalu terus bergerak menguat dan stabil beberapa faktor tentu saja dorong stabilitas dan juga penguatan nilai tukar rupiah baik faktor dalam negeri dan luar negeri. Termasuk juga mulai berlakunya dan beroperasinya DNDF," ucapnya.

Pasalnya, perkembangan nilai tukar rupiah ini telah sesuai dengan mekanisme pasar di mana pasokan dan permintannya terpenuhi dengan baik. Hal ini, menurutnya, merupakan kontribusi dari perbankan, korporasi, hingga pemodal asing yang aktif bertransaksi di pasar uang.

"Kami berterima kasih ke perbankan, korporasi, sejumlah pemodal asing pun transaksi di DNDF itu jadi ingin kami sampaikan," ucapnya.

Selain itu, faktor global juga turut memengaruhi kestabilan rupiah. Salah satunya, meredanya ketegangan perang dagang antara AS dan China yang selama ini membuat ketidakpastian global.

"Maupun juga beberapa faktor lain ekonomi China baik faktor global maupun domestik yang mendorong nilai tukar rupiah menguat. Stabilitasi ini semuanya sekali lagi sesuai dengan mekanisme pasar," tutur dia.


Editor : Ranto Rajagukguk