2019, Industri Tekstil dan Pakaian Tumbuh Paling Tinggi

Aditya Pratama ยท Senin, 06 Januari 2020 - 12:57:00 WIB
2019, Industri Tekstil dan Pakaian Tumbuh Paling Tinggi
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (tengah) bersama jajaran eselon I Kementerian Perindustrian saat jumpa pers di Jakarta, Senin (6/1/2020). (Foto: iNews.id/Aditya Pratama)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kinerja industri sepanjang Januari-September 2019 melambat. Namun, tekstil dan pakaian tercatat tumbuh paling tinggi di antara sektor industri lainnya.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan, industri pengolahan nonmigas hingga kuartal III-2019 tumbuh 4,68 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal III-2018 yang tumbuh 5,02 persen. Namun, ada lima industri yang kinerjanya di atas rata-rata industri.

"Pertama, industri tekstil dan pakaian jadi 15,08 persen. Kedua, industri pengolahan lainnya seperti jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan 10,33 persen. Ketiga, industri makanan dan minuman (mamin) 8,33 persen. Keempat, industri kertas dan barang dari kertas 6,94 persen. Kelima, industri furnitur 6,93 persen," ujar Agus di Jakarta, Senin (6/1/2020).

Politikus Partai Golkar tersebut menilai, industri tetap menjadi salah satu kontributor terbesar bagi ekonomi. Hingga kuartal III-2019, kontribusinya mencapai 19,62 persen.

"Lima besar kontribusi sektor industri pengolahan non-migas diawali industri mamin 6,5 persen, lalu industri barang logam 1,7 persen, industri alat angkutan 1,68 persen, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional 1,59 persen, dan industri tekstil dan pakaian jadi 1,25 persen," kata dia.

Agus mengatakan, investasi di sektor industri hingga kuartal III-2019 mencapai Rp147,4 triliun. Industri mamin menjadi yang terbesar dalam nilai investasi sebesar Rp41,43 triliun, diikuti industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya Rp37,61 triliun.

"Lalu ada industri kimia dan farmasi sebesar Rp22,10 triliun. Selanjutnya, industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain Rp8,39 triliun, dan terakhir industri kertas dan percetakan Rp8,22 triliun," ucap Agus.


Editor : Rahmat Fiansyah