67 Merek Ranitidin Ditarik, Masyarakat Akan Diberikan Obat Pengganti

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Jumat, 11 Oktober 2019 - 15:06 WIB
67 Merek Ranitidin Ditarik, Masyarakat Akan Diberikan Obat Pengganti

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito (kanan) didampingi Ketum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) Nurul Falah (kiri). (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menghentikan produksi, distribusi, dan peredaran seluruh produk ranitidin. Ada 67 merek dagang obat tukak lambung dan tukak usus ini yang harus ditarik dari pasaran.

Ikatan Apoteker Indonesia Nurul Falah memastikan industri farmasi sudah menghentikan produksi produk ini. Begitu pun dengan masing-masing distributor, apoteker rumah sakit dan apotik akan menarik produk (recall) ranitidin.

"Ranitidin itu nama generik, mereknya banyak tadi disebutkan ada 67. Jadi ranitidin itu nama generik. Kalau nama generik itu bukan nama dagang," ujarnya di Gedung BPOM, Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Langkah recall ini hal yang biasa di industri farmasi asal pelarangan tersebut cukup beralasan dan berdasarkan hasil penelitian. Produk yang ada di pasaran akan dihentikan penyaluran ke masyarakat dengan mengembalikan produk tersebut ke distributor.

"Maka industri farmasi menyurati distributor berdasarkan datanya. Dia tahu page nomor berapa saja yang sudah beredar ke mana saja sehingga gampang memonitornya," kata dia.

Namun, bagi masyarakat yang membutuhkan obat untuk tukak lambung atau usus tidak perlu khawatir. Pasalnya, BPOM memastikan masyarakat akan direkomendasikan obat lain yang cocok dengan penyakit yang diderita.

"Ada antasida, saya sebutkan ya namanya yang generik ya. Ada famotidin ada yang masuk namanya proton paminbitor itu omeprazole. Tapi sekali lagi harus berdasarkan indikasi medis yang ditetapkan oleh dokter," ucapnya.

Seperti diketahui, BPOM melakukan ini karena menemukan cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) pada produk obat ranitidin. Meski kandungannya relatif kecil tapi jika dikonsumsi terus-menerus bisa memicu kanker.

Sebagai informasi, studi global memutuskan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 nano gram per hari. "Kalau kadarnya lebih dari 96 nanogram per hari menjadi karsinogenik. Tapi itu kalau diminum terus-menerus. Kalau tidak terus-terusan tidak apa-apa," tutur dia.

Editor : Ranto Rajagukguk