Ada Perang Dagang, Menteri Susi Kritisi Pengusaha yang Jualan Dokumen

Antara ยท Kamis, 19 September 2019 - 17:42 WIB
Ada Perang Dagang, Menteri Susi Kritisi Pengusaha yang Jualan Dokumen

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Di tengah perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China, sejumlah negara berkembang berupaya untuk memanfaatkan situasi tersebut untuk menggenjot ekspor. Dengan ekspor yang melejit, perekonomian pun bisa tumbuh lebih cepat.

Namun, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti mengkhawatirkan situasi tersebut tak dimanfaatkan pengusaha Indonesia. Susi membaca artikel di mana sebanyak 14.000 metrik ton tuna loin dari China tidak bisa masuk ke pasar AS. Pasalnya, AS menerapkan tarif impor hingga lebih dari 250 persen terhadap China.

Bukannya memanfaatkan peluang tersebut, pengusaha Indonesia kata Susi justru hanya berjualan dokumen. "Mestinya ini digantikan ikan-ikan dari Indonesia. Ikan-ikan milik perusahaan Indonesia," katanya di Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Ia mengaku tidak ingin kejadian pada 2001-2004 terulang kembali. Kala itu, China dikenakan tarif impor udang sekitar 70-100 persen oleh AS. Sementara Indonesia hanya dikenakan tarif impor sebesar 12 persen.

Namun, yang dilakukan pengusaha Indonesia justru memberikan dokumen untuk mengatasnamakan barang asal China, Thailand, atau Vietnam itu sebagai produk Indonesia.

"Jadi ada kesempatan bukan dipakai untuk meningkatkan produksi pertambakan udang, kita mengambil jalan pintas jualan dokumen saja," katanya.

Atas kejadian tersebut, AS pun marah dan mengancam untuk mengembargo udang Indonesia. Berdasarkan cerita tersebut, Susi mengingatkan agar kejadian itu tak terulang dan Indonesia harus memanfaatkan peluang emas perang dagang itu dengan benar. Ia juga meminta bantuan Kepolisian Air (Polair) untuk memastikan impor tuna dari China ke Indonesia tidak direekspor ke AS.

"Kita hanya dapat stempel saja, perusahaan Indonesia dapat komisi 10 persen per kg, bukan itu yang kita ingin, tapi kita ingin produksi meningkat supaya bisa mempekerjakan banyak orang kita," katanya.


Editor : Ranto Rajagukguk