Alasan Tak Sehat, Beras dan Gula Disarankan Kena Cukai

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Selasa, 03 Juli 2018 - 14:36 WIB
Alasan Tak Sehat, Beras dan Gula Disarankan Kena Cukai

Majalah SINDO Weekly menggelar Weekly Forum bertema "Peningkatan Rasio Penerimaan Negara terhadap PDB Melalui Kebijakan Cukai" di Gedung Sindo, Jakarta. (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id - Beras dan gula yang merupakan bahan pangan strategis masyarakat masih dijaga kestabilan harganya oleh pemerintah. Namun, bagaimana jika kedua komoditas tersebut dikenakan cukai?

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengatakan, beras dan gula dapat dikenakan cukai karena menjadi penyebab utama masyarakat mengidap penyakit diabetes, kanker, hingga jantung. Hanya saya kedua komoditas ini mejadi bahan pangan masyarakat sehingga pemerintah hingga kini belum berani menerapkan cukai.

"Orang Indonesia pemakan beras dan gula paling besar di dunia kalau kita tetapkan ini problemnya menjadi tidak populis bagi pemerintah karena dianggap makanan pokok yang harus dilindungi," ujarnya dalam Weekly Forum bertema ‘Peningkatan Rasio Penerimaan Negara terhadap PDB Melalui Kebijakan Cukai’ oleh Majalah SINDO Weekly di Gedung Sindo, Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Oleh karenanya, ia meminta pemerintah untuk gencar melakukan sosialisasi mengenai dampak konsumsi gula dan beras bagi kesehatan masyarakat. Jika pemerintah mulai mensosialisasi dari sekarang maka kemungkinan lima tahun ke depan cukai gula dan beras bisa diterapkan.

"Selama ini pemerintah buru-buru siapkan kebijakan sehingga masyarakat tidak bisa siap-siap. Dua hal itu yang dalam waktu lima tahun ke depan harus dilaksanakan, tapi gula harus dipercepat," ucapnya.

Selama sosialisasi, pemerintah dapat mendorong pengganti penggunaan dari kedua bahan pokok tersebut. Sebagai contoh gula dapat diganti dengan bahan yang lebih sehat seperti daun stevia.

Pemerintah dapat meminta industri gula untuk mengembangkan produksi gula yang berbahan dasar daun stevia. "Kasih potongan pajak insentif terhadap produksi stevia. Sehingga begitu industri itu berkembang, gula itu bisa digantikan. Sehingga gula yang menyebabkan penyakit bisa dikurangi," ucapnya.

Kemudian, meski konsumsi beras terus bertambah setiap tahunnya, namun ia melihat pergeseran pola konsumsi masyarakat kalangan menengah atas yang mulai beralih ke salad. Hal ini bisa lebih didorong oleh pemerintah denga sosialisasi gaya hidup sehat.

Sampai saat ini Indonesia baru menerapkan tiga barang yang dikenakan cukai. Menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun  2007,  barang kena cukai terdiri dari etil alkohol atau etanol, minuman yang mengandung etil alkohol, dan hasil tembakau.

Padahal cukai diberlakukan atas barang-barang yang memiliki karakter tertentu seperti konsumsinya perlu dikendalikan, barang yang perlu diawasi peredarannya, barang yang berdampak negatif pada lingkungan atau kesehatan, dan barang yang perlu pembebanan ke utang negara.

"Dua hal ini yang menurut saya memugkinkan untuk dikenakan cukai karena ini akan mengurangi dan akan tingkatkan kesehatan masyarakat," kata dia.

Editor : Ranto Rajagukguk