Bantah Ada Deindustrialisasi, Menperin Sebut Manufaktur Tumbuh Positif

Rully Ramli ยท Selasa, 16 April 2019 - 23:03 WIB
Bantah Ada Deindustrialisasi, Menperin Sebut Manufaktur Tumbuh Positif

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenperin)

JAKARTA, iNews.id - Calon Presiden (Capres) Nomor Urut 02 Prabowo Subianto menyebutkan, bahwa Indonesia sedang mengalami deindustrialisasi. Hal ini ia sampaikan dalam debat capres kelima yang dilaksanakan beberapa hari lalu.

Namun, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengaku tidak setuju dengan apa yang disampaikan oleh Prabowo. Menurut dia, sektor industri Indonesia masih berjalan dengan baik dan sehat.

Hal ini dibuktikan dengan industri manufaktur yang mampu memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 20 persen. Oleh karenanya, ia menilai tidak tepat kalau Indonesia dikatakan sebagai negara yang mengalami deindustrialisasi.

"Dari capaian 20 persen tersebut, Indonesia menempati peringkat kelima di antara negara G20," kata Airlangga di ICE BSD, Tangerang, Senin (15/4).

Bukan hanya itu, menurut pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur ini, industri manufaktur memegang peranan penting terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini bisa dilihat dari Indonesia yang telah masuk dalam 16 besar negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia.

"Karena pertumbuhan ekonomi dan kontribusi industri kita bagus, maka Indonesia menjadi country partner di Hannover Messe pada tahun 2022," ujarnya.

Bahkan, posisi manufaktur Indonesia terhadap PDB saat ini hanya tertinggal oleh empat negara saja, yaitu China dengan sumbangsih 29,3 persen, disusul Korea Selatan 27,6 persen, Jepang 21 persen, dan Jerman 20,7 persen.

"Kalau kita lihat rata-rata kontribusi manufaktur dunia saat ini sekitar 15,6 persen. Jadi, sudah tidak ada satu negara di manapun yang di atas 30 persen," ucap Airlannga.

Ia mengakui bahwa sumbangan industri manufaktur Indonesia terhadap PDB memang mengalami penurunan apabila dibandingkan era tahun 90-an. Saat itu kontribusi manufaktur Indonesia hampir mencapai angka 30 persen.

Namun, pada era orde baru tersebut, angka PDB Indonesia masih jauh lebih kecil dibandingkan beberapa tahun ke belakang. Saat itu PDB secara keseluruhan adalah sebesar 95 miliar dolar AS.

"Nah, sekarang 20 persen itu dari 1.000 triliun dolar AS. Jadi tentu magnitude-nya berbeda. Dulu sekitar 300 miliar dolar AS, saat ini skalanya sudah naik 10 kali," katanya.


Editor : Ranto Rajagukguk