Bantuan Infrastruktur Air Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Ranto Rajagukguk · Jumat, 15 Maret 2019 - 23:59 WIB
Bantuan Infrastruktur Air Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Aneka infrastruktur air yang dibangun Kementerian Pertanian (Kementan) di berbagai daerah kini sudah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat tani. (Foto: Kementan)

JAKARTA, iNews.id - Aneka infrastruktur air yang dibangun Kementerian Pertanian (Kementan) di berbagai daerah kini sudah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat tani. Dengan meningkatnya irigasi tersier, embung, dam parit, dan long storage, memotivasi petani untuk terus memproduksi pangan.

Selama empat tahun terakhir (2015-2018), Kementan sudah merehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (JIT) seluas 3,12 juta hektare (ha) dan telah meningkatkan indeks pertanaman (IP). Realiasi terbesar terjadi tahun 2015, yang mencapai 2,45 juta ha. “Kegiatan ini mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP) hingga 0,5 dari kondisi awal,” ungkap Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Sarwo Edhy, Jumat (15/3/2019).

Menurut Sarwo Edhy kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi seluas 3,12 juta ha itu mampu mempertahankan produksi padi sebanyak 16,36 juta ton. Dengan peningkatan IP 0,5 telah terjadi peningkatan produksi sebesar 8,18 juta ton, sehingga total produksi padi selama empat tahun pada lahan rehabilitasi jaringan mencapai 24,37 juta ton gabah kering panen (GKP).

Selain merehabilitasi irigasi tersier, Ditjan PSP juga melaksanakan program pengembangan bangunan konservasi air, yakni embung, dam parit, dan long storagesejumlah 2.785 unit. “Kita harapkan JIT yang sudah diperbaiki dan pembangunan embung tersebut dirawat petani secara swadaya agar infrastruktur perairan itu tetap berfungsi dengan baik,” ujar Sarwo Edhy

Salah satu contoh yang menikmati manfaat infrastruktur air adalah Petani Desa Cangkring, Kecamatan Prajekan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Mereka begitu senang saat menceritakan manfaat dua embung yang di desanya mengingat, setahun lamanya mereka kesulitan air untuk bertanam. 

“Dulu, selama 1 tahun (2017) petani tidak bisa bertanam karena memang tidak ada airnya, karena DAM Plucong jebol," kata Mantri Tani Kecamatan Prajekan, Bagus.

Padahal, selama ini DAM Pluncong diandalkan untuk mengairi Desa Cangkring seluas 200 hektar (ha) dan Desa Walidono seluas 200 ha. Karena itu, dengan adanya embung di Desa Cangkring, ungkap Bagus, sangat berguna untuk memfasilitasi pengairan yang sempat terputus karena DAM Pluncong jebol.

Untuk membangun embung, petani yang tergabung dalam kelompok tani atau Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) mendapat bantuan swakelola dana sebesar Rp120 juta per unit. Lebih lanjut Bagus menuturkan, embung pertama di Desa Cangkring memiliki solar cell dan sistem pompa untuk pengisian air embung dengan kapasitas tampung 500 meter kubik. 

“Memang sebelumnya sudah ada (solar cell), untuk memompa air bersih. Tapi sayang sekali sering terbuang dan hanya bisa mengalir kalau siang hari," katanya.

Embung yang dikelola HIPPA Unggul ini memberikan dampak pada pertanaman menjadi lebih luas. Jika sebelumnya hanya 25 ha, tapi kini menjadi 45 hea. Pertambahan luas tanam itu, karena lahan yang semula suboptimal (terbengkalai) dengan adanya air dari embung bisa ditanami jagung. Bahkan bisa panen dua kali setahun.


Editor : Ranto Rajagukguk