Bawa Indonesia Keluar dari Krisis Ekonomi, Habibie Sempat Dicibir PM Singapura

Rahmat Fiansyah ยท Rabu, 11 September 2019 - 21:22 WIB
Bawa Indonesia Keluar dari Krisis Ekonomi, Habibie Sempat Dicibir PM Singapura

BJ Habibie. (Foto: dok iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie menjadi presiden RI kala negara dalam keadaan genting. Situasi politik memanas setelah krisis Asia menghantam Indonesia.

Saat membaca pidato pengunduran diri pada tanggal 21 Mei 1998, Soeharto menunjuk Habibie sebagai penggantinya. Keputusan itu sempat meragukan banyak pihak, baik dari dalam maupun luar negeri

Dalam buku yang berjudul "Detik-Detik yang Menentukan", Habibie menceritakan pada 25 Mei 1998, di ruang kerja Presiden di Istana Merdeka, dia terus memantau berita tentang kondisi Indonesia.

"Khususnya berita yang beredar mengenai free fall atau jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar AS yang sejak akhir 1997 saya dengar disebarluaskan oleh mantan PM Singapura Lee Kuan Yew," tulis Habibie.

Habibie mendengar Lee Kuan Yew yang saat itu menjabat sebagai Menteri Senior Singapura menyebut kalau Habibie menjadi presiden, maka kurs rupiah akan terus jatuh melewati Rp16.000, bahkan bisa ke Rp20.000.

Habibie menyebut, pernyataan Lee tersebut berdampak negatif bagi Indonesia yang tengah mengalami krisis kepercayaan. Atas pernyataan Lee itu, Habibie bahkan sempat menyebut Singapura sebagai little red dot pada Agustus 1998.

Namun belakangan, dia mengaku enggan berpolemik lebih lanjut dengan Lee dan Singapura karena hanya akan merugikan Indonesia.

"Saya berpendapat bahwa berpolemik dengan mereka yang sehaluan dengan Senior Minister Lee Kuan Yew akan lebih merugikan bangsa dan negara. Satu-satunya cara menghadapinya adalah dengan karya nyata yang membuktikan bahwa mereka keliru," katanya.

Selain Lee, keraguan juga datang dari dalam negeri. Pada 4 Juni 1998, Habibie mengaku membaca berita surat kabar yang berisikan kritikan tajam Rizal Ramli (RR) dkk. Lewat Econit Advisory Group, RR mengkritisi komposisi tim ekonomi Kabinet Reformasi Pembangunan tak lain tim ekonomi era Soeharto.

Tulisan tersebut, seperti yang dituturkan Habibie, menyebut tim ekonomi yang dibentuknya tidak akan melahirkan kebijakan inovatif. Bahkan, kepemimpinan Habibie disebut hanya bertahan tiga bulan saja karena pemerintahannya part of the problem dan bukan part of the solution.

"Membaca pendapat tersebut, saya tidak khawatir, malah mendorong saya untuk bekerja lebih keras, dan membuktikan bahwa hasil analisis Econit menarik, tapi tidak tepat," ujarnya.

Habibie menilai, kekacauan di Indonesia saat itu karena situasi tidak menentu akibat kekuasaan dipegang presiden otoriter. Selain itu, keputusan Soeharto mundur semakin membuat situasi tidak menentu.

Pria asal Parepare itu mengatakan, kunci menyelesaikan krisis adalah mengubah situasi yang tidak menentu menjadi menentu. Berbagai kebijakan, kata dia, diambil mulai dari menjadikan Bank Indonesia sebagai lembaga independen hingga tetap memperbolehkan mata uang rupiah bergerak bebas sesuai ekonomi pasar.

Dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun, Habibie sukses mengantar rupiah dari level Rp16.000 kembali turun hingga ke Rp6.500. Selain itu, pertumbuhan ekonomi RI juga berbalik positif pada 1999 dari sebelumnya minus 13 persen pada 1998.

Habibie membungkam orang-orang yang mengkritiknya dengan kinerja. Bahkan, Lee mengirimkan surat secara khusus kepadanya lewat Tanri Abeng. Dia mengungkapkan isi surat tersebut.

"Saya (Lee) salah tentang Anda (Habibie)," kata Habibie.


Editor : Rahmat Fiansyah