Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan HP hingga Laptop Senilai Rp61,86 M

Rully Ramli ยท Selasa, 30 April 2019 - 18:22:00 WIB
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan HP hingga Laptop Senilai Rp61,86 M
Kementerian Keuangan kembali menggagalkan upaya penyelundupan belasan ribu telepon genggam, laptop, tablet, dan berbagai alat elektronik. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai Kementerian Keuangan kembali menggagalkan upaya penyelundupan belasan ribu telepon genggam, laptop, tablet, dan berbagai alat elektronik. Adapun nilai belasan ribu produk elektronik ilegal tersebut mencapai Rp61,86 miliar.

Proses penindakan aksi penyelundupan produk ilegal ini dilakukan oleh Ditjen Bea Cukai dalam dua waktu yang berebeda, yaitu dilakukan pada Sabtu (20/04/2019) dan Jumat (26/04/2019).

"Modus yang digunakan dalam kedua penyelundupan tersebut tergolong nekat dengan menggunakan kapal berkecepatan tinggi/High Speed Craft (HSC)," ujar Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, dikutip dari keterangan resmi, Selasa (30/4/2019).

Mardiasmo menambahkan, penindiakan ini sejalan dengan kampanya Ditjen Bea Cukai, ‘Legal itu Mudah’ kepada para pelaku industri dalam negeri.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bea Cukai Kemenkeu Heru Pambudi mengatakan, dalam menjalankan fungsi pengawasannya, pihaknya terus berupaya secara maksimal untuk memastikan bahwa barang-barang yang beredar di pasar merupakan barang legal dan tidak membahayakan masyarakat.

"Dalam memerangi peredaran barang ilegal, DJBC secara kontinyu dan masif telah melakukan pengawasan dan penindakan di berbagai wilayah di Indonesia," ujar dia.

Dari dua penindakan tersebut, Ditjen Bea Cukai telah berhasil mengamankan satu orang tersangka dan saat ini masih dalam proses pengembangan.

Atas penyelundupan ini, pelaku akan dijerat dengan ketentuan hukum UU Nomor 10 Tahun 1996 juncto UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan pasal 103d juncto pasal 55 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman paling singkat dua tahun dan paling lama delapan tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp100 juta dan paling banyak Rp5 miliar.

Editor : Ranto Rajagukguk