BI Sebut Investor Asing Mulai Keluar dari Pasar Keuangan pada Mei 2019

Rully Ramli ยท Jumat, 17 Mei 2019 - 13:42 WIB
BI Sebut Investor Asing Mulai Keluar dari Pasar Keuangan pada Mei 2019

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo. (Foto: iNews.id/Isna Rifka Sri Rahayu)

JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) melihat adanya tekanan pada pasar keuangan pada Mei 2019. Hal ini tercermin dari mulai keluarnya modal asing dari Indonesia (capital outflow).

Deputi Gubernur Senior BI, Dody Budi Waluyo mengatakan, situasi ini tidak terlepas dari semakin memburuknya negosiasi antara AS dan China untuk menuntaskan perang dagang. Investor khawatir perekonomian global melambat akibat perang dagang kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.

"Kalau kita lihat perkembangan sampai hari ini, kondisi global kita tengah kembali mendapatkan tekanan, khususnya tekanan di pasar keuangan. Ketegangan China dan AS memunculkan spillover effect ke banyak negara, khususnya negara emerging," kata Dody di Gedung BI, Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Dody menyebut terjadinya capital outflow membalikkan tren sepanjang Januari-April yang mana asing terus masuk ke pasar keuangan (capital inflow). Namun, dia tidak mengungkapkan berapa nilai capital outlow sepanjang dua pekan di bulan Mei.

"Bulan Mei bisa dikatakan net-nya adalah capital outflow dari perekonominya hampir di semua instrumen, setelah kita mencatat year to date dari Januari sampai dengan bulan April itu inflow secara signifikan," tutur dia.

Dari sisi internal, Dody menyebut pemicu capital outflow berasal dari data perekonomian yang tidak sesuai ekspektasi. Pada kuartal I-2019, pertumbuhan ekonomi hanya 5,07 persen.

"Kita juga melihat angka pertumbuhan ekonomi kita yang bisa dikatakan di bawah perkiraan hampir semua pihak termasuk Bank Indonesia. Itu semua berawal dari bagaimana dampak dari trade tension dan dampak pada asumsi pertumbuhan ekonomi dunia," ujar dia.

Selain itu, neraca perdagangan April 2019 juga menunjukkan masalah serius setelah defisit menyentuh 2,5 miliar dolar AS. Hal ini, kata Dody, karena situasi ekonomi global yang menekan ekspor, termasuk membuat harga-harga komoditas seperti batu bara anjlok.


Editor : Rahmat Fiansyah