BI Sebut Penguatan Rupiah Sesuai Fundamental Ekonomi

Antara ยท Kamis, 16 Januari 2020 - 15:55 WIB
BI Sebut Penguatan Rupiah Sesuai Fundamental Ekonomi

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo. (Foto: iNews.id/Isna Rifka Sri Rahayu)

JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) menyatakan tren pergerakan nilai tukar rupiah yang menguat dalam beberapa minggu terakhir masih wajar. Penguatan tersebut sejalan dengan fundamental ekonomi domestik.

Deputi Gubernur Senior BI Dody Budi Waluyo mengatakan, bank sentral sejauh ini belum masuk ke pasar untuk intervensi kurs rupiah. Namun, BI tak ragu mengintervensi jika kurs rupiah bergerak di luar fundamental.

"Kalau rupiah ini sudah di luar fundamentalnya, ke arah menguat, BI akan masuk," ujar dia di Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Dalam beberapa hari terakhir, kurs rupiah terus menjauh dari level Rp14.000 per dolar AS. Bahkan, mata uang Garuda bergerak stabil pada kisaran Rp13.600 per dolar AS.

Menurut Dody, penguatan rupiah tersebut karena adanya perbaikan sejumlah indikator makro ekonomi. Pelaku pasar berekspektasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2019. BI memprediksi PDB pada kuartal akhir bisa lebih tinggi daripada kuartal III-2019 yang sebesar 5,02 persen.

Selain PDB, lanjut Dody, defisit neraca perdagangan sepanjang 2019 turun menjadi 3,2 miliar dolar AS. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan defisit neraca perdagangan pada 2018 yang mencapai 8 miliar dolar AS.

"Inflasi 2019 juga terkendali. Banyak faktor tersebut yang membuat rupiah menguat dan masih sesuai fundamental," ujar dia.

Dody menjelaskan penguatan rupiah akan memberikan dua sisi dampak bagi perekonomian. Dalam jangka pendek, akan meningkatkan investasi dan konsumsi karena struktur biaya akan lebih murah. Dalam hal ini, penguatan rupiah akan mempermurah biaya impor.

Selain itu, dalam jangka pendek, penguatan rupiah juga akan berimbas positif pada aliran keuangan di tubuh korporasi yang memiliki utang valas. Korporasi tidak akan menderita kerugian kurs dari eksposur utang valas.

Namun, dalam jangka menengah-panjang, penguatan rupiah memang akan mengecilkan nilai ekspor. Karena harga komoditas ekspor setelah dikonversi ke rupiah, akan lebih kecil.

Namun, pria yang berkarier di BI sejak 1988 itu menegaskan bank sentral akan terus mengawal rupiah supaya tetap bergerak sesuai nilai fundamentalnya.

"Kita tidak akan ragu untuk masuk, jika sudah tidak sesuai dengan fundamentalnya," kata Dody.

Editor : Rahmat Fiansyah