Biodiesel RI Dipersoalkan, Mendag Layangkan Nota Keberatan ke WTO 

Isna Rifka Sri Rahayu · Jumat, 16 Agustus 2019 - 19:04 WIB
Biodiesel RI Dipersoalkan, Mendag Layangkan Nota Keberatan ke WTO 

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) hari ini akan melayangkan nota keberatan kepada World Trade Organization (WTO). Hal ini terkait pengenaan bea masuk anti-subsidi atas barang biodiesel Indonesia oleh Uni Eropa (UE).

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, nota keberatan tersebut paling lambat dikirim hari ini. Pasalnya, Indonesia dapat menyerahkan nota keberatan dalam jangka 15 hari setelah diterapkannya bea masuk tersebut pada 14 Agustus lalu.

"Kita menyampaikan surat keberatan, sudah disampaikan. Harusnya paling lambat hari ini. Isinya nota keberatan ke WTO," ujarnya di Gedung DPR MPR, Jakarta, Jumat (16/8/2019).

Nota keberatan ini dilayangkan karena pemerintah merasa adanya ketidakadilan dalam penerapan bea masuk sebesar 8-18 persen ini. Adapun UE menerapkan bea masuk agar terciptanya kesetaraan pasar antara produk biodiesel Indonesia dengan produsen asal benua Eropa.

Pemerintah pun membalas dengan menerapkan tarif bea impor terhadap produk olah susu asal Benua Biru. Tarif bea masuk bakal diterapkan Indonesia untuk beberapa produk asal Eropa khususnya olahan susu yang sering diimpor. Melalui kebijakan tarif bea masuk ini, maka bakal membuat produk susu asal eropa menjadi lebih mahal.

"Dengan mengenakan bea masuk anti-dumping untuk susu dari Uni Eropa. Besaran bea masuk anti-dumping ini akan dihitung terlebih dahulu. Kami juga bisa melakukan hal serupa, tapi harus ada dasarnya," ujar Mendag Enggar di Tangerang, Rabu (14/8/2019).

"Yang pasti kami menyampaikan nota keberatan dalam waktu selisih lima hari lagi. Tadi saya sudah rapat, breakfast meeting dengan Wapres (Jusuf Kalla), juga saya laporkan bahwa kita sampaikan nota keberatan sesuai proses dan ketentuannya. Jika mereka ekspor dan ada kerugian, baru dilaporkan untuk anti-dumping," tutur dia.


Editor : Ranto Rajagukguk