Buwas: Saya Lihat Ada Kesalahan Sistem di Bulog

Ade Miranti Karunia Sari ยท Rabu, 09 Mei 2018 - 19:20 WIB
Buwas: Saya Lihat Ada Kesalahan Sistem di Bulog

Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), Budi Waseso. (Foto: Sindonews.com)

JAKARTA, iNews.id - Beras dinilai menjadi komoditas pangan yang sensitif dengan kenaikan harga, karena memiliki bobot yang paling besar dalam inflasi.

Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), Budi Waseso menilai, gejolak harga beras terjadi karena adanya mata rantai yang panjang.

"Saya lihat ada kesalahan sistem di sini. Bagaimana pengadaan, bagaimana penyetokan, bagaimana pendistribusian sampai kepada pembeli atau masyarakat ini, itu terlalu bertele-tele. Jadi, yang saya lihat ini yang harus saya potong-potong,” ujar pria yang biasa disapa Buwas ini saat berkunjung ke Gedung iNews Jakarta, Rabu (9/5/2018).

Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu menilai, mata rantai komoditas pangan utama seperti beras seharusnya tidak panjang karena bisa membuat harga menjadi mahal. Menurut dia, hal ini disebabkan regulasi yang bisa saja disengaja atau tidak.

Selain itu, dia juga mengaku siap melawan para mafia beras, baik dari eksternal maupun internal Bulog. Dia mengaku ada mafia dalam tubuh Bulog yang memainkan data. Bulog akan berkoordinasi dengan unsur Satuan Tugas (Satgas) Pangan, termasuk aparat TNI dan Kepolisian.

"Yang bermain-main itu ada, tunggu saja. Saya sudah punya (pegang nama mafia yang bermain). Tapi, cara saya beda dengan di BNN," katanya.

Menurut Buwas, Persoalan yang tak kalah pentingnya soal pangan yaitu soal data yang tidak sinkron. Dia menyebut, masalah ini terjadi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Kedua instansi itu memiliki data yang berbeda soal data produksi dengan kebutuhan beras.

"Persoalannya ini di data karena data kita ini tidak akurat. Sebenarnya gini, penduduk kita yang riil itu berapa sih? Secara umurm data yang membutuhkan beras itu berapa secara usia dewasa, data itu yang enggak ada," ucapnya.

Dari sisi Bulog, kata Buwas, hanya memastikan bahwa stok beras tidak berada di bawah 1 juta ton. Saat ini, stok beras di gudang Bulog sudah lebih dari batas tersebut karena beras impor baru saja masuk. Apalagi, panen raya sudah terjadi sejak April lalu.

Editor : Rahmat Fiansyah