Chatib Basri Minta Pemerintah Kaji Pengeluaran APBN

Ilma De Sabrini ยท Selasa, 10 Desember 2019 - 21:42:00 WIB
Chatib Basri Minta Pemerintah Kaji Pengeluaran APBN
Ekonom Senior Chatib Basri. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id -  Ekonom Senior Chatib Basri memberikan pandangan terkait pengoptimalan anggaran pendapatan belanja negara (APBN). Untuk merealisasikannya, pemerintah diminta melakukan spending review (pengkajian pengeluaran).

Chatib menjelaskan, pengkajian pengeluaran tersebut guna memastikan belanja pemerintah berdampak bagi ekonomi nasional. Bila tak memiliki pengaruh besar, itu artinya program pemerintah untuk berbagai pos perlu dievaluasi.

“Sebetulnya, (perlu dikaji) kalau uang yang dikeluarkan itu ada impact pada growth apa enggak. Karena orang itu selalu ngeluh dan persoalannya uang. Padahal ada yang uangnya (anggaran) gede tapi hasilnya enggak punya impact,” kata Chatib Basri, di Kementerian Keuangan, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa (10/12/2019).

Dia menyebut, masih banyak pos yang memiliki belanja besar namun belum berdampak besar, seperti pendidikan, hingga alokasi transfer ke daerah.

“Misalnya tunjangan profesi guru, alokasi transfer daerah, uangnya ngendap. Jadi mesti dilihat alokasi kementerian, jangan-jangan bukan soal uangnya enggak ada tapi desainnya,” ucapnya.

Selain itu, Chatib berharap pemerintah lebih cermat dalam memberikan insentif pajak ke pelaku usaha. Pemberian insentif ini harus cukup selektif agar program berjalan efektif.

“Soal tax insentif saya dengar dari kemenkeu jumlahnya Rp240 triliun, itu angkanya besar lho. Apakah itu efektif? Yang diperlukan oleh private sektor enggak? Percuma dikasih insentif tapi enggak membuat investasi jadi naik,” ucapnya.

Dia berharap pemerintah tak lagi mengeluarkan kebijakan kontraproduktif yang bisa berdampak buruk ke ekonomi. Pemerintah diminta lebih berani memasang target penerimaan meski situasi perekonomian tak menentu.

"Kalau saya lihat dari studi yang saya lakukan, APBN kita secara umum itu memang masih prosiklikal kalau pertumbuhan ekonominya turun, pertumbuhan pajaknya turun bujetnya cenderung dihemat. Padahal mestinya itu justru didorong,” ujarnya.

Editor : Ranto Rajagukguk