China Bebaskan Tarif Impor untuk 16 Produk AS hingga 2021

Djairan ยท Selasa, 15 September 2020 - 23:26 WIB
China Bebaskan Tarif Impor untuk 16 Produk AS hingga 2021

Pemerintah China telah memutuskan untuk membebaskan tarif atas 16 produk impor asal Amerika Serikat (AS). (Foto: Shutterstock)

BEIJING, iNews.id - Pemerintah China telah memutuskan untuk membebaskan tarif atas 16 produk impor asal Amerika Serikat (AS). Produk tersebut termasuk diantaranya tepung ikan, pelumas hingga obat kanker. 

Pengecualian bea masuk itu merupakan perpanjangan pembebasan tarif selama satu tahun. “Pemerintah memperpanjang keputusan sebelumnya di tahun 2019 untuk membebaskan 16 produk Amerika dari tarif tambahan, perpanjangan ini untuk satu tahun lagi hingga 16 September 2021,” ujar pihak Kementerian Keuangan China, dikutip dari South China Morning Post pada Selasa (15/9/2020).

Sebelumnya, tarif tambahan tersebut dikenakan pada sejumlah Produk AS pada tahun 2018, ketika China terlibat dalam perang tarif balas dendam dengan Presiden Donald Trump. AS mengancam peningkatan tarif sambil mempertahankan tarif tambahan untuk impor China senilai sekitar 250 miliar dolar AS sehingga China juga mempertahankan tarif pembalasan.

Namun, tarif tambahan itu ternyata mulai merugikan importir China, sehingga pemerintah setempat mulai menerima proposal pengecualian dari pelaku impor pada Mei 2019. Dengan begitu, pada September 2019, pemerintah membebaskan tarif tambahan terhadap sejumlah barang dari AS, ketika China berusaha mengakhiri perang dagangnya. 

Lalu, pada Februari 2020 China kembali membebaskan 65 produk AS lainnya seperti obat-obatan. Saat ini, pembebasan tarif oleh China sebagian besar bersifat teknis, karena pengecualian tersebut diputuskan atas permintaan dari importir yang merasa terbebani.

Sementara itu, di lain sisi pemerintah China telah berkomitmen untuk menepati janjinya kepada AS dalam kesepakatan perdagangan fase I. Hal ini berupa peningkatan impor atas barang dan jasa AS senilai 200 miliar dolar AS. Kesepakatan itu menjadi salah satu harapan bagi Beijing untuk mempertahankan hubungan stabil dengan Washington.    

Editor : Ranto Rajagukguk