China Vs Amerika, Konsumen Saling Boikot karena Covid-19

Djairan ยท Rabu, 20 Mei 2020 - 09:56 WIB
China Vs Amerika, Konsumen Saling Boikot karena Covid-19

Pandemi Covid-19 memicu ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia China dan Amerika Serikat (AS). (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, iNews.id - Pandemi Covid-19 memicu ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia China dan Amerika Serikat (AS). Hal itu ditandai dengan munculnya nasionalisme komersial di antara konsumen tentang produk masing-masing negara.

Dikutip dari South China Morning Post, sebuah survei baru-baru ini oleh platform data terkemuka Deutsche Bank menunjukkan 41 persen orang AS tidak akan membeli produk ‘Made in China’ lagi, sementara 35 persen orang China akan menghindari membeli produk ‘Made in USA’.

“Meskipun sebagian besar konsumen kedua negara tersebut sebenarnya tidak siap melakukan itu, namun hasil survei menunjukkan peningkatan nasionalisme terhadap barang produksi negara masing-masing, corona benar-benar mengubah tatanan ekonomi hari ini,” ujar analis Deutsche Bank Apjit Walia.

Ketidakpercayaan konsumen AS terhadap produk China turut didorong oleh berbagai komentar dari pejabat negeri Paman Sam tersebut, khususnya Presiden Donald Trump yang menyalahkan China atas munculnya pandemi Covid-19 yang muncul sejak Desember 2019 lalu.

Analis lainya dari Deutsche Bank mengatakan, dengan Pemilihan Umum Presiden Amerika Serikat yang kurang dari enam bulan lagi, Trump diperkirakan memanfaatkan situasi tegang dengan China tersebut untuk mengalihkan perhatian publik atas kinerja pemerintahannya, terlebih dalam menangani dampak Covid-19 terhadap ekonomi.

"Emosi memang memuncak di kedua negara ini, dan para politisi tentu tahu betul hal ini. Membuat masalah ini semakin rumit tidak lepas dari momentum pemilihan umum di AS," ujar analis Walia.

Dalam sebuah survei terhadap konsumen AS lainya yang dilakukan oleh penasihat bisnis FTI Consulting yang berbasis di Washington AS, 78 persen responden mengatakan mereka akan bersedia membayar lebih untuk suatu produk, jika penjual itu telah mengosongkan produk asal China.

Editor : Ranto Rajagukguk