Defisit APBN hingga November 1,95 Persen, Terendah Sejak 2015

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Kamis, 06 Desember 2018 - 14:20 WIB
Defisit APBN hingga November 1,95 Persen, Terendah Sejak 2015

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 hingga akhir November 2018 sebesar Rp287,9 triliun. Dengan demikian, defisit APBN 2018 sudah mencapai 1,95 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), terendah sejak 2015.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, posisi defisit ini masih lebih rendah dari outlook sebelumnya yang diperkirakan mencapai 2,19 persen dari PDB. Hal ini dikarenakan pemerintah berhasil memaksimalkan penerimaan negara di tengah kondisi yang tidak menentu.

"Defisit akhir November Rp287 triliun, lebih kecil dari yang telah dianggarkan Rp325,9 triliun. Artinya, defisit sudah mencapai 1,95 persen dari PDB," ujarnya di Hotel Novotel Nusa Dua, Bali, Kamis (6/12/2018).

Adapun penerimaan negara hingga akhir November 2018 sebesar Rp1.654 triliun atau telah terealisasi 87,3 persen dari target APBN 2018 sebesar Rp1.894,7 triliun. Sementara, belanja negara mencapai Rp1.942,4 triliun atau 87,5 persen dari target APBN Rp2.220,7 triliun.

"Defisit kita secara keseluruhan akan lebih kecil karena penerimaan kita cukup kuat. Defisit akan lebih kecil dari APBN kita. Ini situasi yang sangat berbeda sekali sejak saya kembali tahun 2016. Ini tren yang membaik secara signifikan," ucapnya.

Dengan demikian, dia memperkirakan defisit APBN hingga akhir tahun dapat di kisaran 1,86-1,87 persen dari PDB. Hal ini melihat dari tren defisit APBN yang terus menurun selama beberapa tahun belakangan sehingga pada 2018 diperkirakan dapat di bawah 2 persen.

Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Askolani sebelumnya memperkirakan, defisit APBN 2019 semakin mengecil ke level 1,84 persen. Meskipun harus diakui pada dua tahun terakhir defisit masih di level 2,5 persen.

Seiring dengan hal tersebut, keseimbangan primer juga mencatat defisit yang lebih rendah dari outlook semula yang sebesar Rp87,3 triliun. Pihaknya mencatat keseimbangan primer per November 2018 sebesar Rp38,8 triliun.

"Ini merupakan angka keseimbangan primer yang jauh lebih rendah dibandingkan lima tahun terakhir," kata dia.


Editor : Ranto Rajagukguk