Di ITB, Menteri Basuki Sampaikan Program Penanganan Banjir di Jawa Barat

Aditya Pratama ยท Kamis, 16 Januari 2020 - 15:07 WIB
Di ITB, Menteri Basuki Sampaikan Program Penanganan Banjir di Jawa Barat

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono. (Foto: iNews.id/Isna Rifka Sri Rahayu)

BANDUNG, iNews.id - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyampaikan pentingnya pembangunan infrastruktur pengendali banjir dalam upaya mengurangi dampak bencana banjir bagi masyarakat. Pasalnya, dalam kurun waktu belakangan bencana banjir kerap melanda berbagai wilayah, termasuk DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Hal itu disampaikan Basuki dalam orasi ilmiahnya dalam acara Penganugerahan Doktor Kehormatan dengan judul “Mengejar Ketertinggalan Infrastruktur Sumber Daya Air, Meningkatkan Daya Saing Bangsa" di Aula Barat, Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Jalan Ganesa, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (16/1/2020).

Basuki menyampaikan, sejak akhir tahun 1990-an, konsep penanganan banjir mengalami perubahan dari semula flood control yang difokuskan pada badan sungai di ruas tengah dan hilir sungai menjadi flood management dengan penanganan secara terpadu dari hulu hingga hilir sungai.

"Pendekatan ini mulai diterapkan pada kegiatan North Java Flood Control Sector Project dan South Java Flood Control Sector Project," ujar Basuki.

Sebagai ilustrasi, penerapan flood management, penanganan banjir pada Sungai Citarum secara terpadu dilakukan dari hulu hingga ke hilir. Hingga tahun 2019 telah dilaksanakan peningkatan kemampuan sungai dan anak sungai Cikijing, Sungai Cimande, Sungai Cikeruh, serta pembangunan kolam Cienteung yang dapat dioperasikan sejak tahun 2018 terutama untuk mengendalikan banjir Sungai Cigado dan Citarum di daerah Cienteung.

"Pada saat ini sedang dilaksanakan peningkatan kemampuan Sungai Citarum Hulu dan Sungai Citarik, serta pembangunan sodetan sungai (Flood-way) Cisangkuy. Selanjutnya, kegiatan yang segera dilaksanakan adalah pengerukan dasar sungai hingga tercapai kondisi desain cross-sections untuk Q20," kata dia.

Pensiunan PNS Kementerian PUPR ini juga menyinggung mengenai Terowongan (Tunnel) Nanjung yang akan segera diresmikan, namun pada pertengahan Desember 2019 sempat dioperasikan dalam kondisi darurat untuk mengurangi tinggi air Sungai Citarum.

Dia menceritakan, pada tanggal 17 Desember 2019 pukul 23.14 WIB saat ketinggian air di Sungai Citarum mencapai elevasi puncak +660 meter, satu pintu dari dua Terowongan Nanjung dibuka. Kemudian, pada 18 Desember 2019 pukul 02.30 WIB dinihari elevasi muka air sungai terus naik hingga +660,2 meter.

Pada pukul 08.00 WIB, elevasi muka air Sungai Citarum turun menjadi +559,06 meter, sementara itu elevasi sungai turun setinggi 1,14 meter hanya dalam kurun waktu beberapa jam dan memutus genangan-genangan banjir. Padahal, sebelum Terowongan Nanjung dibangun dan dioperasikan, pada kondisi intensitas hujan yang sama, wilayah genangan-genangan banjir yang terjadi baru bisa surut setelah 3 sampai 5 hari.

"Pada saat tahun baru 2020, Terowongan Nanjung memberikan kinerja yang baik dalam pengendalian banjir. Muka air di daerah “langganan banjir” Dayeuh Kolot tidak mencapai titik banjir sekalipun pada saat itu hujan turun dengan intensitas lebih tinggi dan dengan durasi cukup lama," ucap Basuki.

Diharapkan, dengan adanya Sodetan Cisangkuy akan memberikan kinerja pengendalian banjir Sungai Citarum ke tingkat yang lebih baik lagi. Hal ini dikarenakan lokasi ujung akhir sodetan berada di hilir daerah genangan banjir Dayeuh Kolot. Pada sistem Sungai Citarum masih perlu dibangun beberapa Polder Pengendali Banjir yang dilengkapi kolam retensi, pompa dan pintu-pintu air, serta peninggian tanggul sungai di beberapa lokasi.

"Jika seluruh upaya ini selesai dibangun, pada kondisi debit sungai Citarum mencapai debit desain kala ulang 20 tahun, diperkirakan luas daerah genangan banjir bisa turun dari 342 hektar menjadi hanya seluas 41 hektar dengan tinggi genangan lebih rendah dari satu meter dan lama genangan kurang dari satu hari," tuturnya.

Tidak hanya itu, upaya lain dari pemerintah pusat, menurut Basuki, adalah perbaikan kualitas aliran air dan lingkungan Sungai Citarum dan melalui program "Citarum Harum" yang saat ini tengah dilaksanakan terintegrasi oleh berbagai kegiatan stakeholders.  Program ini ditargetkan bisa diselesaikan dalam waktu tujuh tahun. Saat ini telah selesai diidentifikasi lokasi dan sumber-sumber pencemar, disertai cara pengendaliannya.


Editor : Ranto Rajagukguk