Dukung Reformasi Regulasi di Indonesia, Inggris Berikan Bantuan Rp20 Miliar

Rully Ramli ยท Rabu, 12 Juni 2019 - 11:31 WIB
Dukung Reformasi Regulasi di Indonesia, Inggris Berikan Bantuan Rp20 Miliar

Penandatanganan kerja sama antara Inggris dan Indonesia terkait reformasi regulasi. (Foto: iNews.id/Rully Ramli)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah Inggris mendukung upaya Indonesia melakukan reformasi regulasi. Sebagai bentuk dukungan, bantuan sebesar 1,14 juta poundsterling, setara Rp20 miliar diberikan.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik mengatakan, bantuan tersebut diberikan dalam kerangka nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) pengembangan reformasi regulasi di Indonesia. Selain dana, bantuan diberikan dalam bentuk transfer pengalaman.

"Melalui kerja sama yang akan kita mulai, Inggris akan membagikan pengalamannya mendukung regulasi reformasi. Ini langkah yang sangat baik," ujar Malik di Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Dalam kerangka kerja sama itu, kata dia, ada tiga isu utama yang akan didorong. Pertama, kedua negara sepakat mendorong perlindungan hak konsumen lewat regulasi.

"(Regulasi) harus menyeimbangkan antara (kepentingan) konsumen dan industri," ucapnya.

Kedua, lanjut Malik, regulasi yang dibuat pemerintah harus diterapkan dengan baik. Di sini, kualitas regulasi menjadi sangat penting, sehingga bisa bekerja dengan baik.

"Tidak hanya tertulis di kertas, tapi bisa diimpelementasikan dengan baik," katanya

Isu terakhir, lanjut Malik, regulasi yang ada harus ramah terhadap investasi. Regulas harus bisa membuat investor tertartik untuk menanamkan modal di Indonesia, terutama proyek-proyek prioritas pemerintah.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono mengatakan, kerja sama ini penting karena regulasi memainkan peranan strategis mendorong investasi. Dengan demikian, ekonomi domestik diharapkan tumbuh lebih baik.

"Kami harap program kerja sama ini berjalan dengan baik, dapat membawa perbaikan regulasi untuk meningkatkan iklim investasi sehingga mampu membawa pertumbuhan ekonomi yang inklusif," tuturnya.


Editor : Rahmat Fiansyah