Dulang Berkah dan Untung dari Industri Syariah

Koran SINDO ยท Minggu, 17 Maret 2019 - 11:01 WIB
Dulang Berkah dan Untung dari Industri Syariah

Bisnis syariah semakin berkembang seiring besarnya ceruk pasar di segmen ini. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, iNews.id - Menggunakan jasa layanan berbasis syariah atau produk bersertifikat halal semakin menjadi tren di tengah masyarakat.

Konsep ini terus meluas, tidak hanya diimplementasikan ke bisnis makanan, tetapi juga merasuk ke industri perbankan, properti, travel, fashion, dan gaya hidup. Fenomena ini menunjukkan bahwa kehidupan yang kini serbamodern tidak serta-merta menenggelamkan nilai-nilai Islami dalam diri manusia.

Gaya hidup halal belakangan telah menjadi tren dan semakin dicari dalam rangka mendapatkan banyak berkah dalam kehidupan. Tidak hanya di Tanah Air, konsep ini juga telah menjadi perbincangan umum seantero dunia.

Pertumbuhan industri halal global meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dari 7,5 persen pada 2015 menjadi lebih dari 8 persen pada 2016 dan diperkirakan akan terus meroket. Angkanya mencapai 3,84 triliun dolar Amerika Serikat (AS) pada 2015 dan diperkirakan mencapai 6,38 triliun dolar AS pada 2021.

Industri halal ini meliputi food & beverage, kosmetik dan obat-obatan, travel, fashion, serta media dan hiburan. Adapun di Indonesia, potensinya sangat besar mengingat penduduk Indonesia yang merupakan 12,7 persendari populasi muslim dunia. Namun faktanya, negara ini belum jadi pemain utama industri halal di dunia.

Fakta ini diperlihatkan pada hasil penelitian Thomson Reuters yang fokus pada peringkat negara terbesar pengeluaran untuk produk halal (expenditure rank ) dan peringkat negara terbesar penyedia produk halal (player rank ). Indonesia memang memiliki expenditure rank tinggi, selalu masuk 10 besar.

Meski begitu, sayangnya, negara muslim terbesar ini ternyata tergolong negara dengan player rank yang rendah. Misalnya industri makanan dan minuman halal, yang menempati expenditure rank peringkat pertama. Tetapi dari sisi player rank, peringkat Indonesia tidak masuk 10 besar.

Hal ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia begitu besar, namun tidak diimbangi dengan produsen domestik yang juga banyak, termasuk merek-merek lokal yang belum berkiprah mengisi pasar dalam negeri.

Menurut Rachmat S Marpaung, ketua Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI), beberapa tahun ke belakang memang makin banyak pelaku usaha yang hijrah menganut sistem syariah. Hal itu, lanjut dia, hampir merambah segala bidang mulai perbankan, makanan, produk rumah tangga, properti, hingga fashion.


Editor : Ranto Rajagukguk

Halaman : 1 2 3