Eksportir Khawatir Rupiah Terus Menguat, Ini Komentar Menko Darmin

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Jumat, 13 September 2019 - 19:02 WIB
Eksportir Khawatir Rupiah Terus Menguat, Ini Komentar Menko Darmin

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Sejak kemarin nilai tukar rupiah mengalami penguatan hingga di bawah Rp14.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini menimbulkan kekhawatiran para eksportir karena dapat membuat harga produknya tidak kompetitif.

Seperti diketahui, eksportir menjual produk ke luar negeri dengan mata uang dolar AS sehingga jika rupiah menguat maka nilai produknya menjadi lebih mahal.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, penguatan rupiah ini tidak perlu dirisaukan. Pasalnya, rupiah masih berada di level yang tidak terlalu rendah seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

"Jangan begitu, belum apa-apa sudah khawatir kita itu kan awal 2018 kurs kita itu Rp13.400. Masa sekarang masih dekat Rp13.900 sudah khawatir, kalau sudah Rp13.400 atau Rp13.300 boleh khawatir," ujarnya di kantornya, Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Kurs rupiah di pasar spot hari ini bertahan menguat terhadap dolar AS. Data Bloomberg menunjukkan, sore ini rupiah menguat 27 poin atau 0,20 persen menjadi Rp13.966 per dolar AS dari posisi kemarin Rp13.994 per dolar AS.

Sementara, berdasarkan data kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia pada 13 September 2019, rupiah diperdagangkan di level Rp13.950 per dolar AS, menguat 102 poin dibandingkan posisi kemarin di level Rp14.052 per dolar AS.

Sebelumnya, kurs dolar AS melemah pada akhir perdagangan, Kamis (12/9/2019) waktu setempat karena investor mencermati serangkaian data ekonomi utama serta keputusan terbaru Bank Sentral Eropa (ECB) untuk menurunkan suku bunga dan membeli obligasi.

ECB memutuskan untuk memangkas suku bunga simpanan utamanya 10 basis poin menjadi minus 0,5 persen dan meluncurkan program pembelian obligasi besar-besaran pada Kamis untuk menopang perekonomian zona euro yang kendur.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,34 persen menjadi 98,3151 pada akhir perdagangan.


Editor : Ranto Rajagukguk