Gapki Laporkan Ekspor Minyak Sawit Periode Maret Naik 3 Persen

Rully Ramli ยท Rabu, 15 Mei 2019 - 21:24 WIB
Gapki Laporkan Ekspor Minyak Sawit Periode Maret Naik 3 Persen

Ekspor minyak kelapa sawit secara keseluruhan pada Maret 2019 mencatatkan hasil yang positif. (Foto: Reuters)

JAKARTA, iNews.id - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebutkan, ekspor minyak kelapa sawit secara keseluruhan pada Maret 2019 mencatatkan hasil yang positif. Ekspor dilaporkan naik 3 persen dibandingkan Februari 2019, semula 2,88 juta menjadi 2,96 juta ton.

Dengan angka tersebut, maka kinerja ekspor minyak kelapa sawit pada kuartal I 2019 naik 16 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. "Pada triwulan pertama 2019, kinerja ekspor minyak sawit secara keseluruhan meningkat sekitar 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dari 7,84 juta ton triwulan I 2018 meningkat menjadi 9,1 juta ton di triwulan I 2019," tutur Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Mukti menambahkan, di tengah ketidakpastian harga komoditas di pasar internasional, minyak kelapa sawit masih mampu tumbuh. Ini menunjukkan cukup baiknya performa sektor minyak kelapa sawit nasional.

Ia mengakui, banyak sentimen global yang dapat memengaruhi kinerja ekspor minyak kelapa sawit nasional. Mulai dari kampanye hitam terhadap komoditas minyak kelapa sawit yang dilakukan Uni Eropa, hingga perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang tak kunjung selesai.

Selain itu, adanya potensi melambatnya pertumbuhan ekonomi global, juga memengaruhi kinerja ekspor minyak kelapa sawit nasional. Pasalnya, dengan melambatnya ekonomi negara tujuan ekspor nasional, berdampak dengan menurunnya ekspor minyak kelapa sawit ke beberapa negara.

"Ekspor CPO dan turunannya dari Indonesia ke India membukukan penurunan yang tajam pada Maret 2019, yaitu 62 persen, dari 516,53 ribu ton di Februari meluncur bebas ke 194,41 ribu ton di Maret," ucapnya.

Pertumbuhan ekonomi India yang hampir memasuki ambang krisis, dinilai menjadi faktor utama berkurangnya permintaan minyak sawit baik dari Indonesia maupun Malaysia. Penurunan permintaan ekspor juga diikuti oleh Afrika anjlok sebesar 38 persen, AS sebesar 10 persen, China sebesar 4 persen, dan Uni Eropa 2 persen.

Meskipun begitu, Mukti mengaku masih optimistis dengan kinerja ekspor minyak kelapa sawit nasional ke depannya. Pasalnya, ekspor minyak sawit ke beberapa negara lain masih menunjukan peningkatan.

"Peningkatan permintaan CPO dan produk turunannya dari Indonesia yang cukup signifikan datang dari Asia khususnya Korea Selatan, Jepang dan Malaysia," ucap dia.


Editor : Ranto Rajagukguk