Hadapi Ekonomi Digital, BI Soroti Inklusi Keuangan Nasional yang Masih Rendah

Rully Ramli ยท Senin, 07 Oktober 2019 - 14:57 WIB
Hadapi Ekonomi Digital, BI Soroti Inklusi Keuangan Nasional yang Masih Rendah

Indonesia dinilai memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan ekonomi digital. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Indonesia dinilai memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan ekonomi digital. Hal ini didukung dengan banyaknya jumlah masyarakat Indonesia.

Kendati demikian, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng mengatakan, sistem ekonomi digital masih menghadapi dua tantangan utama untuk tumbuh. Tingkat inklusi keuangan yang masih rendah menjadi salah satu tantangan utama bagi pertumbuhan ekonomi digital.

Berdasarkan data Bank Dunia (World Bank) sampai dengan akhir tahun 2017, tingkat inklusi keuangan nasional batu mencapai 49 persen. 

"Tingkat inklusi keuangan Indonesia masih di angka 49 persen, masih relatif rendah. Di sisi lain ini potensi untuk kita kembangkan," kata Sugeng dalam Seminar Menuju Indonesia Unggul Melalui Ekonomi Digital yang diselenggarakan IDX Channel di Jakarta, Senin (7/10/2019).

Selain tingkat inklusi keuangan yang masih rendah, BI juga menyoroti akses ekonomi digital yang masih belum merata. Hal ini terefleksikan dengan rendahnya angka akses internet nasional.

Sugeng menyebutkan, tingkat pengguna handphone di masyarakat sudah mencapai 100 persen. Namun, berbeda dengan tingkat penggunaan internet yang masih rendah.

"Jumlah internet user dan social media user masih di bawah rata-rata negara lain," katanya.

Menurut Sugeng, dengan tingginya potensi dari sisi permintaan dalam negeri, pasar ekonomi digital akan sangat menjanjikan bagi sistem perekonomian nasional.

"Pada akhir Agustus tahun ini kami mencatat 272 fintech dan sekitar 200 platform e-commerce," ucap dia.

Editor : Ranto Rajagukguk