Hadapi Revolusi Industri 4.0, Insinyur Harus Pimpin Perubahan

Yuswantoro ยท Jumat, 01 Juni 2018 - 17:46 WIB
Hadapi Revolusi Industri 4.0, Insinyur Harus Pimpin Perubahan

Ilustrasi. (Foto: iNews.id/Yudistiro Pranoto)

MALANG, iNews.id - Menghadapi tantangan revolusi industri 4.0, para insinyur dituntut memiliki nilai lebih dalam hal profesionalitas, dan kehidupan sosial di tengah masyarakat yang terus berkembang.

Tuntutan zaman yang terus berubah, dan mengharuskan para insinyur lebih profesional. Hal ini menjadi salah satu pembahasan penting dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang digelar di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Ketua Umum Pengurus Pusat PII Hermanto Dardak menegaskan, insinyur bukan lagi sekadar profesi teknis, tetapi harus mampu menjawab segala tantangan kehidupan manusia, untuk memberikan solusi hidup yang lebih baik. Menghadapi tantangan yang semakin berat, tentunya insinyur diharapkan mampu mengembangkan profesi yang berkelanjutan.

“Insinyur, harus mampu meningkatkan kualitasnya. Membangun inovasi dan kreativitas. Serta memiliki visi kepemimpinan untuk perubahan yang lebih baik,” katanya.

Tenaga insinyur profesional, sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan perkotaan yang semakin berat, keterbatasan sumber daya, dan persoalan lingkungan. Tentunya, insinyur profesional sangat dibutuhkan memberikan solusi, untuk membangun perkoataan yang nyaman, aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, serta memberikan nilai ekonomi masyarakatnya.

Untuk membangun insinyur yang profesional dan berkelanjutan, dia menyatakan PII terus melakukan berbagai upaya pengembangan, bekerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri. Kerja sama ini diharapkan bisa meningkatkan profesionalitas insinyur, dan menjawab tantangan persoalan di masyarakat.

PII juga melakukan sertifikasi profesi insinyur. Ada tiga tingkatan sertifikasi, yakni muda, madya, dan utama. “Dalam proses sertifikasi, mereka akan melakukan magang kerja di dunia industri. Sehingga, kita bisa menjembatani persoalan lemahnya kesinambungan antara hasil riset di perguruan tinggi, dengan kebutuhan industri dan masyarakat, serta pemerintah,” ujarnya.

Proses sertifikasi ini, ditegaskannya sudah berjalan. Saat ini, sudah ada 13.000 insinyur profesional. Tentunya, insinyur yang profesional harus memiliki etika, kemampuan praktik, dan komunikasi. Insinyur bukan hanya bisa membangun fisik, tetapi tahu tujuan dari bangunan fisik tersebut, dan bisa menggerakkan sumber daya yang ada di sekitarnya, serta memiliki fungsi berkelanjutan.

Hermanto menambahkan, PII juga memberikan dukungan terhadap program pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan pemerintah. Salah satu bentuk dukungannya, adalah menyediakan tenaga insinyur profesional yang bersertifikat. Keberadaan infrastruktur, sangat dibutuhkan bangsa ini dalam menghadapi tantangan masa depan.

Ketua Pelaksana Rapimnas PII Kiki Asmara menyatakan, kegiatan Rapimnas kali ini, memiliki tujuan konsolidasi organisasi, dan menjadi forum evaluasi kinerja PII. “Seluruh program kerja yang sudah pernah disusun, akan dievaluasi bersama untuk mengetahui pencapaiannya. Tentunya, dalam kegiatan ini juga dirumuskan solusi-solusi dari PII untuk menjawab tantangan revolusi industri 4.0,” tegasnya.

Menteri Pekerajaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono yang hadir membuka acara Rapimnas PII mengaku, keberadaan PII sangat penting dalam memberikan dukungan dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan oleh pemerintah.

Selama ini, pemerintah fokus melaksanakan pembangunan infrastruktur untuk menghadapi tantangan dan persaingan. Saat ini, arah pembangunan juga mulai mengarah kepada peningkatan kualitas sumberdaya. “Kehadiran PII sangat membantu kami dalam banyak hal. Baik dalam perencanaan, kajian, dan evaluasi. Perannya sangat dibutuhkan bangsa ini, untuk menghadapi tantangan masa depan,” ucapnya.

Editor : Ranto Rajagukguk