Harga Cabai Kembali Normal, September 2019 Deflasi 0,27 Persen

Rully Ramli ยท Selasa, 01 Oktober 2019 - 11:48 WIB
Harga Cabai Kembali Normal, September 2019 Deflasi 0,27 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto saat jumpa pers di Gedung BPS, Jakarta. (Foto: iNews.id/Rully Ramli)

JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga konsumen (IHK) pada September 2019 mengalami deflasi 0,27 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding September tahun lalu yang mengalami deflasi 0,18 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, harga beberapa komoditas pada September lalu menunjukkan adanya penurunan.

"Perkembangan harga berbagai komoditas September 2019 secara umum menunjukan adanya penurunan. Hasil pemantauan BPS yang dilakukan di 82 kota pada September 2019 menunjukan bahwa terjadi deflasi sebesar 0,27 persen," katanya saat jumpa pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (1/10/2019).

Dengan deflasi sebesar 0,27 persen pada September 2019, maka inflasi tahun kalender 2019 (Januari-September) sebesar 2,2 persen. Sementara bila dilihat secara tahunan, inflasi September 2019 3,39 persen.

Berdasarkan hasil pantauan BPS di 82 kota di Indonesia, 12 kota mengalami inflasi dan 70 kota mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Meulaboh 0,91 persen dan inflasi terendah di Watampone 0,01 persen. Sebaliknya, deflasi tertinggi ada di Sibolga 1,94 persen dan deflasi terendah di Tegal dan Surabaya 0,02 persen.

Pria yang kerap disapa Kecuk itu mengatakan, deflasi disebabkan oleh menurunnya beberapa harga komoditas bergejolak. Kelompok bahan makanan deflasi 1,97 persen yang kemudian memberikan andil 0,40 persen terhadap IHK.

"Komoditas cabai merah turun tajam, andilnya kepada deflasi 0,19 persen. Kemudian harga bawang merah andil deflasi 0,07 persen, daging ayam ras 0,05 persen, cabai rawit 0,03 persen, dan telur ayam ras 0,02 persen," tuturnya.

Meski begitu, masih ada komoditas bahan makanan yang mengalami inflasi, yakni beras. Pada September 2019, beras tercatat mengalami inflasi 0,12 persen dan memberikan andil 0,01 persen.

"Deflasi lebih disebabkan penurunan berbagai harga komoditas tergolong komoditas dalam harga bergejolak," ucapnya.


Editor : Rahmat Fiansyah