Impor Turun, Ekonom Sebut Efek Perlambatan Permintaan Dalam Negeri

Rully Ramli ยท Senin, 15 April 2019 - 22:02 WIB
Impor Turun, Ekonom Sebut Efek Perlambatan Permintaan Dalam Negeri

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya penurunan volume impor minyak dan gas bumi (Migas) sebesar 31,17 persen pada Maret 2019. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya penurunan nilai impor pada Maret 2019. Impor Maret 2019 tercatat 13,49 miliar dolar AS, turun 6,76 persen dibandingkan Maret 2018 sebesar 14,46 miliar dolar AS.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal mengatakan, penurunan impor diakibatkan merosotnya permintaan dalam negeri, khususnya dari sektor industri. Ia mengaku tidak setuju, apabila penurunan impor disebabkan oleh kebijakan pemerintah untuk menakan impor, seperti halnya, penggunaan Biodiesel 20 persen (B20).

"Belum banyak kelihatan (dampak kebijakan pemerintah). Justru saya lebih khawatir ini lebih ke efek pelambatan demand dalam negeri," kata Fithra kepada iNews.id, Senin (15/4/2019).

Rendahnya permintaan impor dari sektor industri ini kemudian menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi. Untuk kuartal I-2019 ini, Fithra memprediksi pertumbuhan ekonomi mencapai 4,9 persen.

"Di kuartal pertama ini sepertinya pertumbuhan ekonomi di bawah 5 persen. Hitungan saya 4,9 persen," ucapnya.

Kepala BPS Suhariyanto sebelumnya memaparkan adanya penurunan impor minyak dan gas bumi (migas) yang cukup signifikan. Menurut dia, hal ini diakibatkan keberhasilan pemerintah untuk menekan angka defisit migas yang terjadi pada tahun lalu.

Dia menjelaskan, impor migas terpangkas hingga 31,17 persen menjadi 1,58 miliar dolar AS. Padahal, pada Maret 2018, impor migas menembus 2,24 miliar dolar AS.

Nilai impor migas secara kumulatif atau Januari-Maret turun hingga 28,98 persen. Hal ini, kata dia, tidak terlepas dari upaya pemerintah mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Minyak mentah turun cukup tajam. Nilai hasil minyak juga turun. Saya pikir ada pengaruh ke sana (kebijakan pemerintah). Karena pemerintah sudah bekromitmen menurunkan impor migas, beralih ke B20, B40, dan selanjutnya," kata Suhariyanto.

Sementara itu, impor nonmigas pada Maret 2019 juga turun 2,29 persen. Secara kumulatif, impor nonmigas turun 3,5 persen. Impor nonmigas selama ini menjadi penyumbang impor dengan porsi hingga 88,25 persen.

Sepanjang Januari-Maret 2019, komoditas impor nonmigas yang turun di antaranya mesin dan peralatan listrik (-13,46 persen) dan bahan bakar mineral (-35,17 persen). Sepuluh golongan barang impor tersebut turun 3,26 persen.


Editor : Ranto Rajagukguk