Indef Prediksi Ekonomi RI Tahun 2019 Tumbuh Stagnan di 5 Persen

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Sabtu, 29 Desember 2018 - 22:04 WIB
Indef Prediksi Ekonomi RI Tahun 2019 Tumbuh Stagnan di 5 Persen

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan sekitar 5,3-5,4 persen. Hal ini ditopang oleh meningkatnya konsumsi masyarakat saat kampanye politik.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, pertumbuhan ekonomi 2019 memang akan mencapai 5 persen. Namun, konsumsi rumah tangga cenderung stagnan di 5 persen meski memasuki masa kampanye politik.

"Konsumsi rumah tangga cenderung stagnan di 5 persen karena masyarakat kelas menengah atas menahan belanja di tahun politik," ujarnya kepada iNews.id, Sabtu (29/12/2018).

Selain itu, masa pemilihan umum (Pemilu) terhadap investasi Indonesia justru menjadi sentimen negatif. Pasalnya, kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah akan menjadi tidak pasti karena dipengaruhi pada kepentingan politik saat kampanye.

"Efek pilpres terhadap investasi juga negatif karena banyaknya ketidakpastian kebijakan, banyak investor akhirnya wait and see," kata dia.

Tak hanya itu, iklim investasi Indonesia juga dibebani oleh kondisi makroekonomi dalam negeri di tengah ketidakpastian global. Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR) yang berimbas pada ekonomi negara lain termasuk Indonesia.

"Kurs rupiah tahun depan diperkirakan mencapai Rp15.000 efek naiknya bunga acuan Fed Rate, melebarnya CAD (defisit transaksi berjalan) di atas 3 persen, dan melambatnya investasi portfolio," ucapnya.

Sementara itu, pendorong perekonomian seperti pendapatan masyarakat dari sektor perkebunan juga masih rendah. Hal ini seiring dengan harga sawit dan karet yang belum juga membaik.

Bahkan, pada 2019, tingkat ekspor masih belum dapat menjadi andalan Indonesia akibat perang dagang antara AS dan China yang berpotensi berlanjut. Hal ini dapat menjadi sentimen negatif bagi Indonesia yang selama ini komoditas ekspornya paling tinggi ke negara China.

"Yang menjadi pendorong ekonomi tahun depan ada di sisi belanja pemerintah dengan besarnya pengeluaran bansos PKH, dana desa, serta belanja politik," tuturnya.


Editor : Ranto Rajagukguk