Ini Penjelasan Detail Resesi dan Dampak ke Masyarakat

Djairan ยท Selasa, 29 September 2020 - 22:17:00 WIB
Ini Penjelasan Detail Resesi dan Dampak ke Masyarakat
Resesi terjadi akibat perlambatan ekonomi berkepanjangan. (Foto: SINDO)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati baru-baru ini siap menghadapi resesi ekonomi. Hal ini mengingat ekonomi Indonesia diperkirakan kembali negatif akibat pandemi Covid-19.

Dia memperkirakan, Indonesia mengalami resesi pada kuartal III 2020 dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang minus antara 1,1-2,9 persen, setelah sebelumnya pada kuartal II minus 5,32 persen. Sedangkan untuk keseluruhan tahun 2020, ekonomi diperkirakan berada di kisaran minus 0,6-1,7 persen.

Sejumlah negara telah lebih dahulu mengalami resesi pada pertengahan tahun ini. Sebut saja Singapura, Korea Selatan (Korsel), Australia hingga Amerika Serikat (AS). Lantas apa itu resesi? Bagaimana dampaknya kepada masyarakat?

Tidak ada definisi resmi tentang resesi ekonomi. Namun, para ahli di dunia seringkali menjadikan pendapat guru besar ekonomi dan statistik dari Universitas Rutgers Julius Shiskin sebagai standar umum resesi selama bertahun-tahun. 

Melansir Forbes, Selasa (29/9/2020), pada 1974 Shiskin membuat beberapa aturan praktis untuk mendefinisikan resesi, yang paling populer adalah penurunan PDB selama dua kuartal berturut-turut. Ekonomi yang sehat berkembang dari waktu ke waktu, sehingga dua perempat produksi yang menyusut dalam setahun menunjukkan ada masalah mendasar yang serius.

Dari situlah ekonom banyak berpendapat, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Resesi terjadi ketika ekonomi suatu negara mengalami PDB negatif, tingkat pengangguran yang meningkat, penjualan ritel yang menurun, dan ukuran pendapatan dan manufaktur yang menyusut untuk jangka waktu yang lama.

Lalu, apa penyebab resesi? Resesi sendiri ditandai mulai dari guncangan ekonomi yang tiba-tiba hingga dampak inflasi yang tidak terkendali. Berikut ini fenomena pendorong utama resesi:

Guncangan ekonomi secara tiba-tiba

Guncangan ekonomi merupakan kejutan yang menimbulkan kerusakan finansial yang serius. Seperti pada 1970-an, OPEC memutus pasokan minyak ke AS tanpa peringatan, menyebabkan resesi, belum lagi antrean yang tak ada habisnya di pompa bensin. Wabah virus corona saat ini adalah contoh terbaru dari guncangan ekonomi secara tiba-tiba.

Utang yang berlebihan

Ketika individu atau bisnis memiliki terlalu banyak utang, biaya untuk membayarnya dapat meningkat ke titik di mana mereka tidak dapat membayar tagihan itu. Meningkatnya default utang dan kebangkrutan kemudian membalikkan keadan ekonomi. Hal serupa dapat terjadi pada perekonomian suatu negara dan memicu resesi.

Inflasi yang berlebihan

Inflasi adalah tren harga yang stabil dan naik dari waktu ke waktu. Inflasi sebenarnya bukanlah hal yang buruk, tetapi inflasi yang berlebihan adalah fenomena yang berbahaya. Bank sentral suatu negara mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga dan suku bunga yang lebih tinggi akan menekan aktivitas ekonomi.

Terlalu banyak deflasi

Deflasi adalah saat harga turun dari waktu ke waktu dan nilai uang bertambah, yang menyebabkan upah menyusut, yang selanjutnya menekan harga. Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Bila inflasi terjadi akibat banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang yang beredar.

Lalu, apa dampak resesi ekonomi pada masyarakat?

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

Ketika pendapatan, penjualan dan keuntungan menurun, perusahaan akan mengurangi perekrutan karyawan baru hingga memangkas pekerja, itu sebagai upaya menekan pengeluaran. Pabrikan juga akan berhenti membeli peralatan baru, membatasi pengembangan hingga menghentikan peluncuran produk baru.

Konsumsi masyarakat turun

Karena perusahaan yang terkena dampak resesi menghemat pengeluaran bahkan untuk periklanan dan pemasaran, biro iklan besar juga ikut tertekan. Pada gilirannya, penurunan belanja iklan menurun signifikan hingga berdampak kepada kepercayaan konsumen yang menurun terhadap produk yang beredar. Hal itu membuat pengeluaran konsumen ikut turun dan resesi terus berlanjut, belum lagi upaya penghematan yang terpaksa membuat masyarakat menahan pengeluaran.

Penurunan kredit dan kebangkrutan

Pada awal resesi, suku bunga dapat naik pada awalnya, kemudian turun saat pintu moneter dibuka, tetapi selama resesi standar untuk pinjaman di pasar cenderung lebih ketat dan pemberi pinjaman lebih selektif terhadap risiko yang bersedia. Bahkan bisnis besar akan menghadapi kesulitan untuk mengembalikan utang hingga mencapai rekor puncak, yang mengarah kepada kebangkrutan. 

Kemiskinan meningkat

Saat banyaknya perusahaan besar bangkrut hingga gelombang PHK, maka secara otomatis pengangguran akan mengalami peningkatan. Ketika jumlahnya terus bertambah maka angka masyarakat miskin juga akan semakin bertambah. Hal itu akan diperparah oleh tingkat pendidikan dan kualitas SDM yang tidak memadai.

Menghadapi situasi tersebut, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam menghadapi resesi. Dimulai dari yang paling utama yaitu melindungi sumber penghasilan. Hal itu dapat dilakukan dengan menyimpan dana cadangan dalam bentuk likuid, seperti tabungan atau reksadana yang yang mudah dicairkan menjadi uang tunai.

Menghindari pemborosan dalam setiap belanja rutin juga menjadi prioritas. Resesi identik dengan perubahan perilaku masyarakat yang berbelanja terlalu banyak karena panik (panic buying). Tak kalah penting adalah memelihara optimisme, tidak panik dan tetap kembangkan kreativitas yang menghasilkan pemasukan tambahan.


Editor : Ranto Rajagukguk