Investasi di Indonesia Mahal, Sri Mulyani: Kualitas SDM Rendah

Rully Ramli ยท Jumat, 09 Agustus 2019 - 11:08 WIB
Investasi di Indonesia Mahal, Sri Mulyani: Kualitas SDM Rendah

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Humas Kemenkeu)

JAKARTA, iNews.id - Investasi di Indonesia dinilai masih tidak efisien alias mahal karena pertumbuhan investasi yang dibutuhkan cukup besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini terkait dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM).

Ketidakefisienan penggunaan investasi itu terlihat dari Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang saat ini berada di level 6,3 persen. Artinya, butuh pertumbuhan investasi 6,3 persen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 1 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, tingginya ICOR tidak terlepas dari kondisi fundamental ekonomi yang masih mengalami tantangan, terutama SDM yang mayoritas berpendidikan rendah dan berkeahlian minim.

"Untuk Indonesia berbagai faktor fundamental yang mempengaruhi ICOR adalah sumber daya manusia. Jumlah labour force besar karena demografi masih muda. Tapi terkendala masalah pendidikan relatif rendah dan skill terbatas," ujar dia di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (9/8/2019).

Untuk mengatasi hal tersebut, kata Sri Mulyani, pemerintah sebenarnya dalam 10 tahun terakhir fokus memperbaiki pendidikan. Salah satunya lewat anggaran yang mencapai 20 persen dari total belanja APBN. Namun, mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut mengungkapkan, penggunaan anggaran pendidikan belum efektif.

"Sekarang hampir 10 tahun adopsi 20 persen anggaran pendidikan APBN. Tapi hasilnya tidak besar," ucap dia.

Sri Mulyani mengatakan, penyebab anggaran pendidikan kurang efektif sangat banyak. Salah satu penyebabnya karena sistem pendidikan di Tanah Air terdesentralisasi, sehingga menyebabkan kualitas yang beragam.

"Bagaimana menyinkronkan kewenangan daerah dengan kualitas yang harus relatif seragam. Kualitas pengelolaan sekolah, biaya operasi sekolah. belum bicara sepertiga pendidikan kita dari Kemenag (Kementerian Agama)," tuturnya.

Editor : Rahmat Fiansyah