Jaga Kestabilan Rupiah, BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan

Kunthi Fahmar Sandy ยท Rabu, 16 September 2020 - 21:06 WIB
Jaga Kestabilan Rupiah, BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan

Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan BI-7-Days Reserve Repo Rate di level 4,00 persen. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan BI-7-Days Reserve Repo Rate di level 4,00 persen. Hal ini mempertimbangkan beberapa faktor. 

Faktor pertama adalah perkembangan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek yang menunjukkan volatilitas nilai tukar rupiah secara rata-rata meningkat pada September. Hal ini terindikasi dari one-month implied volatility yang meningkat menjadi 11,0 persen sepanjang bulan September dari bulan Agustus yang tercatat di kisaran 10,7 persen. 

"Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka BI cenderung akan mempertahankan suku bunganya agar nilai tukar rupiah tetap stabil di jangka pendek," katanya saat dihubungi di Jakarta Rabu (16/9/2020). Faktor kedua, yaitu adanya pernyataan BI pada rapat dewan gubernur (RDG) sebelumnya, terkait prioritas untuk mengedepankan kebijakan quantitative easing (QE) dalam rangka mendukung pemulihan perekonomian Indonesia. 

Dengan demikian, peluang perubahan suku bunga pada RDG bulan ini relatif rendah. Namun demikian, ruang penurunan suku bunga masih ada namun terbatas. 

Alasannya karena tingkat inflasi yang rendah seiring dengan inflasi pada Agustus yang tercatat 1,32 persen yoy, lebih rendah daripada batas bawah target BI di tahun ini sebesar 2 persen. "Rendahnya inflasi mengindikasikan masih lemahnya permintaan dan daya beli masyarakat di tengah pandemic Covid-19," ujar dia. 

Selain dari sisi inflasi, diperkirakan defisit transaksi berjalan (CAD) juga mengalami penurunan yang signifikan pada kuartal III 2020 akibat neraca dagang yang membukukan surplus tinggi. 

Pada Juli-Agustus, surplus neraca dagang mencapai 5,56 miliar dolar AS, jauh lebih tinggi dibandingkan neraca dagang pada kuartal I 2020 dan kuartal II-20 sebesar 2,6 miliar dolar AS dan 2,9 miliar dolar AS. 

Kenaikan surplus ini dipengaruhi oleh laju penurunan impor yang lebih dalam dibandingkan penurunan ekspor. Dengan demikian, untuk menopang pelemahan permintaan daya beli dan melambatnya aktivitas ekonomi, BI akan cenderung terus melanjutkan kebijakan longgarnya, baik melalui suku bunga maupun non-suku bunga. 

"BI mungkin akan memberikan stimulus melalui kebijakan non-suku bunga untuk sementara waktu, seiring dengan masih adanya tekanan kepada rupiah. Bila rupiah cenderung mulai stabil, maka ruang untuk melakukan penurunan suku bunga menjadi semakin terbuka," ucapnya.

Editor : Ranto Rajagukguk