JK Kritik Proyek LRT Jabodebek Mahal, Menko Luhut: Memang Itu Betul

Okezone ยท Senin, 14 Januari 2019 - 14:27 WIB
JK Kritik Proyek LRT Jabodebek Mahal, Menko Luhut: Memang Itu Betul

Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan angkat bicara soal kritikan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengenai mahalnya pembangunan kereta ringan alias Light Rail Transit (LRT) Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodebek).

“Memang itu betul (harganya kemahalan), tapi memang elevated dan non-elevated beda harganya tinggi karena di atas biayanya lebih tinggi,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (14/1/2019).

Luhut juga menambahkan, LRT lanjutan dari Cibubur hingga Bogor akan menelan biaya di bawah Rp500 miliar per kilometer. “Lanjutannya dari Cibubur-Bogor itu semuanya biayanya di bawah Rp500 miliar per kilometer,” tuturnya.

Mengenai beda harga antara elevated dengan non-elevated, Luhut tidak bisa menjelaskan lebih jauh. “Saya tak tahu persis, saya pikir jauh lebih murah,” katanya.

Selain Luhut, Direktur Operasi II PT Adhi Karya Pundjung Setya Brata mengatakan, biaya pembangunan LRT Jabodebek masih cukup kompetitif. Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang telah membangun LRT, Indonesia termasuk negara yang mengeluarkan biaya murah.

Sebagai perbandingan, pembangunan LRT Manila di Filipina bisa menelan kocek sebesar Rp904 miliar per km, dan LRT Kelana Jaya Malaysia Rp807miliar per km. Selanjutnya, LRT Lahore di Pakistan Rp797 miliar per km dan LRT Dubai Uni Emirat Arab Rp1,026 miliar per km.

Kemudian, LRT Calgary di Kanada sebesar Rp2,197 miliar per km, dan LRT Houston di Amerika Serikat mencapai Rp688 mliar per km.

"Jadi kalau biaya per kilometernya Rp500 miliar dibandingkan lainnya harga kita cukup kompetitif," ujarnya saat ditemui di Preecast LRT Adhi Pancoran, Jakarta, Senin (14/1/2019).

Pundjung menambahkan, dalam melihat biaya seharusnya juga dilihat secara menyeluruh. Sebab, menurut dia, biaya Rp500 miliar dikeluarkan tidak hanya untuk membangun jalurnya saja melainkan teknologinya juga.

"Dalam menerima informasi cost harus paham dulu scope pekerjaannya apa, teknologi yang dipakai apa. Jadi cost tadi sudah mengandung cost untuk depo, biayanya enggak murah itu. Cost itu termasuk depo dan stasiun," katanya. (Rikhza Hasan)


Editor : Ranto Rajagukguk