Jokowi Ancam Copot Dubes yang Gagal Tingkatkan Ekspor

Antara, Muhammad Aulia ยท Kamis, 09 Januari 2020 - 17:21 WIB
Jokowi Ancam Copot Dubes yang Gagal Tingkatkan Ekspor

Presiden Joko Widodo. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengancam akan mencopot duta besar (dubes) yang tak berkinerja baik. Untuk itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi diminta membuat key performance indicators (KPI) guna memonitor kinerja para dubes.

Jokowi menuturkan, KPI diperlukan agar tujuan pemerintah untuk menjalin kerja sama dengan negara-negara sahabat bisa makin meningkat, khususnya di sektor perdagangan. Kerja sama bilateral perdagangan diperkirakan bisa memperbaiki neraca perdagangan, serta menekan defisit transaksi berjalan.

"Saya minta ke Bu Menteri (Retno) ada sebuah KPI yang jelas, yang terukur. Prestasi ini dihitung dari mana sih? Harus ada angka-angka, ekspor naik berapa untuk China, untuk Amerika, untuk negara Afrika per duta besar biar jelas yang berprestasi sama yang tidak, yang harus diganti dan tidak," ujar Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Dia mengatakan, dubes mengemban amanah konstitusi sebagai duta perdamaian. Namun, Jokowi ingin mereka fokus berdiplomasi ekonomi. “Kita ingin kita semua fokus pada diplomasi ekonomi, 70-80 persen apa yang kita miliki itu fokusnya di situ di diplomasi ekonomi, karena itulah yang saat ini yang sedang diperlukan negara kita,” katanya.

Oleh sebab itu, Dia menegaskan betapa penting bagi para dubes tersebut memegang peran sebagai duta investasi. Untuk itu mereka harus mengetahui celah investasi di bidang apa saja sehingga ke depan bisa menjadi prioritas untuk diproduksi.

“Yang pertama bidang-bidang yang berkaitan dengan barang-barang atau produk-produk substitusi impor,” tuturnya.

Selain itu, Jokowi juga menekankan pentingnya untuk menemukan investor yang berkaitan dengan upaya pengolahan bahan mentah. Pasalnya, Indonesia kaya dengan bahan mentah sebelum diekspor.

Dia mencontohkan kembali soal mengubah minyak kelapa sawit menjadi avtur karena Indonesia juga masih impor avtur. Di sisi lain juga dengan bidang yang berkaitan dalam soal pengembangan B20, B30 dan B50 bahkan B100.

Hal itu, menurut Jokowi, penting sebagai upaya agar Indonesia tidak lagi sekadar menjadi negara pengekspor bahan mentah tetapi minimal produk setengah jadi. “Kalau kita bisa produksi yang B50 posisi tawar kita bisa naik,” katanya.


Editor : Ranto Rajagukguk