Jokowi Diingatkan IMF untuk Berhati-hati Kelola Perekonomian

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Rabu, 06 November 2019 - 15:24 WIB
Jokowi Diingatkan IMF untuk Berhati-hati Kelola Perekonomian

Presiden Joko Widodo (dua dari kanan). (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentang peringatan Director Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva untuk berhati-hati dalam mengelola perekonomian. Pasalnya, kondisi global saat ini masih belum kondusif dan perlambatan ekonomi melanda banyak negara.

Ketidakpastian ini terjadi akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang masih berlangsung, masih ada tensi geopolitik di beberapa kawasan dan juga Brexit. Hal ini membuat perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan hanya di level 3 persen.

"Saya kemarin bertemu dengan Managing Director IMF yang baru, Kristalina, dia berikan sebuah warning, Jokowi hati-hati dalam kelola baik moneter atau fiskal. Hati-hati karena kondisinya seperti ini," ujarnya di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Jokowi pun bersyukur pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjaga di kisaran 5 persen di tengah kondisi global yang seperti itu. Pasalnya, banyak negara yang pertumbuhan ekonominya jauh di bawah itu bahkan sampai terkena resesi ekonomi.

"Dunia growth hampir semuanya turun dan kita alhamdulillah sudah diberi angka 5 (persen), lebih dikit, enggak banyak lebih dikit. Tapi sudah lebih dari 5 sudah bagus," kata dia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2019 sebesar 5,02 persen sehingga secara kumulatif tumbuh 5,04 persen. Namun, realisasi tersebut melambat dari posisi kuartal III 2018 yang sebesar 5,17 persen maupun dari kuartal sebelumnya yang sebesar 5,05 persen.

Menurut dia, realisasi tersebut masih lebih baik dibandingkan negara lain yang perekonomiannya tumbuh lambat termasuk negara-negara maju. Bahkan, Hongkong mengalami resesi karena pertumbuhan ekonominya terkontraksi 3,2 persen pada periode ini.

Perlambatan ekonomi juga terjadi pada tujuan utama ekspor Indonesia yaitu China menjadi 6 persen pada periode ini dari tahun sebelumnya 6,5 persen. Sedangkan AS pertumbuhan ekonominya juga melambat dari 3,1 persen menjadi 2 persen.

"Negara lainnya ada yang tumbuh minus, ada yang menuju nol, ada yang berkurang 1-2 persen, bahkan ada yang dari 7 persen  menjadi 1 persen. Jadi dengan 5 persen itu menandakan lebih bagus dari negara-negara lain, ini patut kita syukuri," tutur dia. 

Editor : Ranto Rajagukguk