Kemarau Panjang, Pemerintah Siap-Siap Antisipasi Inflasi

Rully Ramli ยท Rabu, 10 Juli 2019 - 18:27 WIB
Kemarau Panjang, Pemerintah Siap-Siap Antisipasi Inflasi

Pemerintah memandang perlunya perhatian lebih terhadap ketersediaan komoditas inti penyumbang inflasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah memandang perlunya perhatian lebih terhadap ketersediaan komoditas inti penyumbang inflasi. Hal ini dinilai penting sebab musim kemarau berkepanjangan diprediksi segera terjadi.

Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, usai menghadiri rapat tingkat tinggi (High Level Meeting/HLM) Tim Pengendali Inflasi. Bambang mengatakan, kemarau berkepanjangan akan berdampak terhadap keterbatasan produksi pangan.

"(Rapat) antisipasi kemarau panjang. Kalau kemarau panjang, kan larinya ke produksi pangan," ujar dia di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (10/7/2019).

Mantan Menteri Keuangan itu mengakui, bahwa Indonesia akan menghadapi kekeringan yang tidak biasa sehingga hal ini diyakini berdampak terhadap pergerakan inflasi nasional.

Pasalnya, apabila tidak diantisipasi dengan baik, keterbatasan stok pangan akibat kemarau panjang akan menyebabkan inflasi yang tinggi.

"Komponen inflasi kita kan yang paling besar pangan bergejolak. Jadi kita harus bener-bener antisipasi musim kekeringan yang mungkin agak di luar kebiasaan," kata dia.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik mencatat komoditas pangan yang tercakup dalam harga-harga bergejolak memang menjadi komponen penyumbang inflasi terbesar. Pada Juni 2019, andil komponen harga bergejolak terhadap inflasi mencapai 0,35 persen, jauh diatas komponen inflasi inti sebesar 0,22 persen dan komponen harga diatur pemerintah yang sumbang deflasi sebesar 0,02 persen.

Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, sejumlah wilayah di Indonesia diprediksi akan mengalami kekeringan. Wilayah yang terprediksi mengalami kekeringan diantaranya Sumedang, Gunung Kidul, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, Tuban, Pasuruan dan Pamekasan. 

"Berdasarkan hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga tanggal 30 Juni 2019, terdapat potensi kekeringan meteorologis (iklim) di sebagian besar Jawa, Bali dan Nusa Tenggara dengan kriteria panjang hingga ekstrim," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, Kamis, 4 Juli 2019.


Editor : Ranto Rajagukguk