Kemendag Pastikan 216.000 Ton Gula Impor Masuk Pasar Akhir Maret

Djairan ยท Rabu, 25 Maret 2020 - 16:32 WIB
Kemendag Pastikan 216.000 Ton Gula Impor Masuk Pasar Akhir Maret

Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah menambah pasokan untuk menstabilkan harga gula di pasaran. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah menambah pasokan untuk menstabilkan harga gula di pasaran. Pada akhir Maret, impor gula akan masuk ke Indonesia sebanyak 216.000 ton.

Selain itu, pasokan pasokan gula akan ditambah pula dengan izin impor untuk raw sugar sebanyak 550.000 ton. Dipastikan stok gula hingga Juni terpenuhi.

“Untuk gula konsumsi, saat ini dirasakan masyarakat masih relatif tinggi, harga gula saat ini rata-rata nasional Rp17.000 per kg (kilogram), itu masih tinggi, sementara harga eceran tertinggi yang Pemerintah tentukan Rp12.500. Maka untuk itu Pemerintah sedang melakukan tambahan pasokan,” ujar Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Suhanto saat video conference di Kantor Graha BNPB Jakarta, Rabu (25/3/2020).

Di samping itu untuk mempercepat pasokan gula, Kemendag bekerja sama dengan Satgas Pangan melakukan monitoring ke pabrik gula di Provinsi Lampung. Atas rapat koordinasi Kemendag dan Satgas Pangan bersama Pemerintah Daerah Lampung yang dipimpin langsung oleh Gubernur Lampung, telah disepakati gula sebanyak 33.000 ton akan dikirim ke Jakarta. 

Pemerintah memastikan pasokan gula dari Lampung dapat segera beredar di ritel modern dan masyarakat luas di Jakarta. “Sekarang gula dari Lampung sudah masuk 12.000 fon ke Jakarta, proses pengiriman sedang berlangsung, harapan kami harga gula Jakarta dan sekitarnya akan segera turun normal kembali,” ujar  Suhanto.

Kemendag memastikan melalui koordinasi dengan Kementerian Pertanian, datangnya musim giling tebu pada akhir Juni. Itu artinya gula dari petani akan disalurkan ke masyarakat pada bulan Juli. 

Untuk itu, impor gula tersebut untuk memenuhi pasokan hingga bulan Juni tidak akan memengaruhi harga produksi gula petani.


Editor : Ranto Rajagukguk