Kepala BKPM: Pengusaha Sepakat Tidak Mau Ekspor Bijih Nikel pada 2020

Ilma De Sabrini ยท Selasa, 12 November 2019 - 22:24 WIB
Kepala BKPM: Pengusaha Sepakat Tidak Mau Ekspor Bijih Nikel pada 2020

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memutuskan untuk menghentikan ekspor bijih (ore) nikel pada 2020. Keputusan ini sudah ditetapkan usai bertemu Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian (AP3I) serta Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI).

"Pengusaha penambang dan smelter telah satukan tekad dan sepakat bergandeng tangan kami tidak mau ekspor ore (bijih) mulai 1 Januari 2020," kata Kepala BKPM Bahlil Lahadalia saat jumpa pers di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (12/11/2019).

Meski begitu, pihaknya tetap membuka keran ekspor hingga akhir Desember 2019 kepada perusahaan yang telah memenuhi sejumlah persyaratan. Syarat ini, salah satunya dengan membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter).

Perusahaan yang tidak bisa memenuhi persyaratan harus puas memasarkan hasil produksi bijih nikelnya di dalam negeri. Produksi bijih nikel tersebut bisa dimanfaatkan untuk smelter yang sudah eksisting. 

"Terkait urusan ekspor ore sampai Desember (2019), monggo yang memenuhi syarat, yang tidak memenuhi syarat akan dibeli dalam negeri," kata dia..

Lebih lanjut dia menyebut, setidaknya ada 47 perusahaan yang hadir dalam pertemuan itu. Dari perusahan yang hadir, sebanyak 37 perusahaan memiliki smelter dan baru sembilan perusahaan yang telah terverifikasi. 

Sedangkan, dua perusahaan lainnya masih dalam proses verifikasi. Adapun, sisanya yaitu 26 perusahaan dianggap BKPM bersedia menerima hasil ore dalam negeri.

"Ada 37 perusahaan yang punya smelter. Ada sembilan perusahaan yang sudah terverifikasi, dua perusahaan masih abu-abu karena sedang proses verifikasi. Sedangkan sisanya 26 perusahaan saya anggap hanya mau diserap dalam negeri karena belum kasih konfirmasi ke saya," ucapnya. 

BKPM juga menetapkan harga ore nikel sebesar 30 dolar Amerika Serikat (AS) per metrik ton. Harga yang ditetapkan sudah sesuai dengan banderol internasional. Formula perhitungan itu, yakni harga internasional dipotong ‎biaya ekspor dan pengiriman.

"Teman-teman smelter yang dijual oleh teman-teman itu harganya adalah harga internasional, Hongkong dikurangi transhipment, dikurangi pajak yang itu hitungannya kurang lebih sekitar 30 dolar per metrik ton," kata Bahlil.


Editor : Ranto Rajagukguk