KPPU Nilai Diskon Tarif Ojol Mengarah Predatory Pricing

Ranto Rajagukguk ยท Selasa, 11 Juni 2019 - 20:35 WIB
KPPU Nilai Diskon Tarif Ojol Mengarah Predatory Pricing

pemberian diskon pada ojek online (ojol) oleh aplikator memiliki indikasi predatory pricing. (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengatakan, pemberian diskon pada ojek online (ojol) oleh aplikator memiliki indikasi predatory pricing. Ini terlihat jelas dari perbedaan harga yang tertera di aplikasi dengan yang dibayarkan konsumen.

Ketua komisioner KPPU Kurnia Toha telah meminta divisi penegakan hukum untuk segera menindaklanjuti persoalan itu. “Kemarin itu kan ada penelitian (KPPU). Selama ini mereka mantau tapi belum sampai ke sana. Saya bilang sebenarnya sudah terjadi predatory pricing, maka saya minta ke divisi penegakan hukum segera bergerak,” ucap Kurnia di Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Predatory pricing merupakan langkah pelaku usaha di suatu pasar untuk menjual produk atau layanannya dengan harga semurah mungkin. Tujuannya tidak lain agar dapat mengalahkan pesaingnya, sehingga bisa menguasai pasar.

Selain berdampak pada terpentalnya pelaku usaha lain, persaingan usaha yang tidak sehat seperti ini juga menghambat masuknya pemain baru.

Dugaan predatory pricing ini cukup banyak didengungkan terutama usai Kementerian Perhubungan memberlakukan tarif batas atas dan bawah pada ojol. Dalam hal ini Permenhub Nomor 12 Tahun 2019 dan Kepmenhub Nomor 348 Tahun 2019.

Akibat tarif baru itu, diyakini terdapat penurunan jumlah pengguna layanan ojol. Sebagai respons penurunan itu, diskon diduga menjadi solusi aplikator untuk mengatasi penurunan itu.

Kurnia mengatakan, indikasi bahwa terjadi predatory pricing terlihat jelas dari perbedaan harga yang tertera di aplikasi dengan yang dibayarkan konsumen. Menurutnya, kendati mengatasnamakan diskon atau potongan harga, hal itu bisa saja mengarah pada predatory pricing.

Kendati demikian, Kurnia belum menjelaskan lebih lanjut perihal rencana lembaganya untuk turut memeriksa dugaan pelanggaran persaingan usaha pada diskon tarif ojol.

“Soalnya harga di aplikasi dan yang dibayar konsumen itu beda. Ini sama aja predatory pricing,” ujarnya.


Editor : Ranto Rajagukguk