Menaker: Generasi Milenial Pilih Berwirausaha Ketimbang Jadi Pekerja

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Senin, 19 November 2018 - 12:13 WIB
Menaker: Generasi Milenial Pilih Berwirausaha Ketimbang Jadi Pekerja

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri. (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id - Milenial dikenal sebagai generasi yang unik karena berbeda dengan generasi sebelumnya. Perbedaan ini termasuk mengenai pola pikir milineal dalam hal pekerjaan.

Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri mengatakan, generasi milenial saat ini lebih memilih untuk mendirikan usaha sendiri ketimbang mencari pekerjaan di perusahaan milik orang lain. Hal ini menurutnya justru sangat baik karena dapat menciptakan lapangan kerja yang baru.

"Kenapa berwirausaha ini penting? Karena sekarang generasi milenial, kalau saya baca dari berbagai survei, pilihan pertama mereka bukan mencari pekerjaan, pilihan pertama mereka justru membuka pekerjaan melalui wirausaha," ujarnya dalam sebuah seminar di Hotel Royal Kuningan Jakarta, Senin (19/11/2018).

Dengan berbekal kreativitas, inovasi, dan teknologi, generasi milenial memilih menjadi wirausahawan. Sebagian besar usaha yang dibuka tentu tidak jauh dari ekonomi digital dan berhasil membuat platform-platform yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang ada.

"Itu tipikal generasi milenial yang sekarang, mencari pekerjaan itu menjadi pilihan yang ketiga," kata dia.

Dengan demikian, pemerintah di sini bertugas untuk membangun atau menyediakan pekerja-pekerja dengan kualitas yang baik agar dapat terserap. Terutama pekerja-pekerja yang memiliki keahlian mengoperasionalkan dam mengikuti teknologi yang sedang berkembang cepat.

"Menjadi salah satu yang sangat penting bagi pemerintah untuk memfasilitasi pengembangan lapangan kerja yang produktif," ucapnya.

Seperti diketahui, saat ini sumber daya manusia yang memiliki keahlian jumlahnya sangat terbatas. Berdasarkan survey dari McKinsey, Indonesia membutuhkan setidaknya 3,7-3,8 juta pekerja dengan keahlian yang perlu dipersiapkan dalam setahun.

"Kalau dari 2014-2030 berarti sekitar 14 tahun kita 11 juta baseline-nya baru 56 juta. Ini pekerjaan yang besar," tutur dia.

Kondisi ketenagakerjaan saat ini menunjukkan kendala terbesar yang dihadapi Indonesia bersumber dari terbatasnya keahlian angkatan kerja dan ketidakcocokan antara kebutuhan dengan ketersediaan tenaga kerja. Peningkatan kualitas dan keahlian angkatan kerja masih menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia.

Oleh karenanya, pemerintah menempuh beberapa kebijakan untuk meningkatkan kualitas daya saing tenaga kerja. Salah satunya dengan melakukan pengembangan pendidikan dan pelatihan vokasi, serta pemagangan pekerja di industri.

Editor : Ranto Rajagukguk