Menko Darmin Sebut Dampak Perang Dagang ke RI Sulit Dihitung

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Jumat, 24 Mei 2019 - 21:02 WIB
Menko Darmin Sebut Dampak Perang Dagang ke RI Sulit Dihitung

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai efek perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China sulit dikalkulasi. Pasalnya, hingga kini belum menemui titik akhir

"Susah itu menghitungnya, mesti dilihat jalannya seperti apa," ujarnya di kantornya, Jakarta, Jumat (24/5/2019).

Selain itu, respons dari kedua negara adi daya tersebut juga sulit ditebak. Sebab, beberapa waktu lalu pasar memperkirakan perang dagang ini akan berakhir namun tiba-tiba Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif barang impor atas China senilai 200 miliar dolar AS dari 10 persen menjadi 25 persen.

Donald Trump juga mengeluarkan kebijakan bagi perusahaan AS untuk tidak berhubungan dengan perusahaan China. Namun kemudian AS menunda sebagian larangan tersebut.

Aksi tersebut membuat China mengumumkan akan menaikkan tarif porduk impor AS hingga 25 persen dari 10 persen untuk barang senilai 60 miliar dolar AS. Kenaikan tarif ini rencananya berlaku pada 1 Juni mendatang.

"Kami juga tidak tahu (kepastiannya), katanya Trump dengan Xi Jinping mau ketemu bulan depan, tapi nanti tahu-tahu berubah mereka. Susah kita," ucapnya.

Perang dagang yang berlarut-larut sejak tahun lalu membuat dana asing keluar dari negara emerging market seperti Indonesia. Pasalnya, Bank Indonesia (BI) melihat adanya tekanan pada pasar keuangan pada Mei 2019.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior BI, Dody Budi Waluyo mengatakan, situasi ini tidak terlepas dari semakin memburuknya negosiasi antara AS dan China untuk menuntaskan perang dagang. Investor khawatir perekonomian global melambat akibat perang dagang kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.

"Kalau kita lihat perkembangan sampai hari ini, kondisi global kita tengah kembali mendapatkan tekanan, khususnya tekanan di pasar keuangan. Ketegangan China dan AS memunculkan spillover effect ke banyak negara, khususnya negara emerging," kata Dody di Gedung BI, Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Dody menyebut terjadinya capital outflow membalikkan tren sepanjang Januari-April yang mana asing terus masuk ke pasar keuangan (capital inflow). Namun, dia tidak mengungkapkan berapa nilai capital outlow sepanjang dua pekan di bulan Mei.

"Bulan Mei bisa dikatakan net-nya adalah capital outflow dari perekonominya hampir di semua instrumen, setelah kita mencatat year to date dari Januari sampai dengan bulan April itu inflow secara signifikan," tutur dia.


Editor : Ranto Rajagukguk