Menteri Jonan Singgung soal Ketidakefisienan Industri Migas 

Isna Rifka Sri Rahayu · Senin, 14 Oktober 2019 - 16:15 WIB
Menteri Jonan Singgung soal Ketidakefisienan Industri Migas 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dalam acara IDX Channel Economic Outlook bertema ‘Menuju Kemandirian Energi Nasional' di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (14/10/2019). (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id - Industri minyak dan gas bumi (migas) dinilai sangat tertinggal dari sektor industri lainnya. Pasalnya, hingga kini harga migas di dunia masih belum bisa dikendalikan.

Menteri  Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, jika harga migas tidak bisa dikendalikan, maka satu-satunya cara dengan mengendalikan biaya (cost). Oleh karenanya, dia meminta pelaku industri untuk lebih efisien pada pengeluarannya.

"Beberapa saat lalu, lapangan minyaknya saudi mengalami kecelakaan membuat harga minyak naik 10 persen saja. Terus dua pekan kemudian turun lagi. Ini fakta kok. Oleh karena itu, saya imbau peluang dan tantangan itu, itu tidak cuma masalah harga. tapi perlu efisien," ucapnya dalam acara IDX Channel Economic Outlook bertema ‘Menuju Kemandirian Energi Nasional’ di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (14/10/2019).

Dulu saat Indonesia menjadi negara pengekspor minyak terbesar, harga minyak dalam negeri stabil. Namun, seiring dikonsumsinya sumber daya alam tersebut semakin menipis sehingga Indonesia berubah menjadi negara importir minyak terbesar.

"Makanya, mau tidak mau ya itu. Kalau cost tidak bisa dikendalikan, lalu apa dong? Kan bisnis cuman dua itu. Makanya saya bilang, kita harus efisien," kata dia.

Dia mengaku sangat kaget begitu menjabat jadi Menteri ESDM beberapa tahun lalu, melihat kenyataan bahwa sektor migas sangat tertinggal dari sektor lainnya. Terutama sektor telekomunikasi yang kini bisa berkembang cepat.

"27 tahun lalu waktu saya mulai beli handphone (HP) itu harganya sama dengan satu Toyota Kijang baru, HP cuma bisa buat telepon. Harganya kira-kira waktu itu Rp20 juta sama dengan harga Kijang kotak. Sekarang harganya Rp10-12 juta ini Apple saya. Ini bisa buat nyimpen apa aja, bisa simpan video," ucapnya.

Hal ini terlihat pada harga handphone yang semakin murah dengan fitur yang semakin canggih. Hal tersebut membuktikan industri telekomunikasi berkembang berhasil menekan biaya operasional dan meningkatkan kualitas produknya.

"Kalau elektronik industri berkembangnya luar biasa. Jangkauannya melebihi distribusi BBM yang sudah lebih tua dari republik ini," ujar dia.

Oleh karenanya, industri migas harus segera disesuaikan dengan perkembangan zaman. "Saya sekali lagi katakan, kultur dari kegiatan migas harus di-adjust. Harus diubah mengikuti perkembangan zaman. Harus kompetitif," tutur dia.

Direktur Operasional IDX Channel Apreyvita Wulansari mengatakan, di tengah tantangan bisnis di sektor ini, kemandirian energi nasional harus segera dicermati. Pasalnya, dengan permintaan migas yang terus naik yang tak dibarengi dengan peningkatan produksi, kondisi ini bisa berbahaya bagi Indonesia.

“Kita berharap pemerintah ke depan bisa menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi industri migas. Semoga ini menjadi masukan komprehensif dan menjadi masukan untuk produksi minyak nasional menuju kemandirian energy,” ucap Apreyvita.

Editor : Ranto Rajagukguk