MK Gelar Sidang soal Pemilu, Kemenkominfo Akan Batasi Akses Medsos?

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Selasa, 18 Juni 2019 - 13:37 WIB
MK Gelar Sidang soal Pemilu, Kemenkominfo Akan Batasi Akses Medsos?

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Hari ini Mahkamah Konstitusi (MK) kembali menggelar sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2019. Sejumlah personel keamanan pun disiagakan. Namun, bagaimana dengan keamanan di internet?

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih belum merencanakan untuk membatasi akses media sosial. Pasalnya,  kondisi masih aman terkendali.

"Ada atau tidak ada (pembatasan akses medsos) saya selalu katakan ini tanggung jawab kita semua untuk memastikan," ujarnya di Hotel Lumire, Jakarta, Selasa (18/6/2019).

Kendati demikian, dia meminta seluruh lapisan masyarakat untuk tidak menyebarkan konten-konten yang memicu provokasi di medsos maupun aplikasi pesan singkat. Menurut dia, selama kedua wadah komunikasi tersebut bersih dari konten provokasi dan hoax, kondisi masih aman.

"Tidak memantik dan menyebarkan konten-konten yang memicu memprovokasi hasil-hasil dari perhitungan KPU yang telah dihasilkan KPU. Selama kita berpikiran positif mah tidak ada," ucapnya.

Dia menambahkan, saat Aksi 22 Mei kemarin, pihaknya menemukan 600 hingga 700 url yang menyebarkan konten hoax yang bertujuan untuk memprovokasi masyarakat. Meski url tersebut telah diblokir namun keesokan harinya kembali muncul dengan jumlah yang kurang lebih sama.

"Sekarang sudah menurun, terus Jumat lalu sudah di bawah 100. Pasti ada terus-menerus tapi jumlahnya kecil," kata dia.

Sebelumnya, pemerintah memutuskan untuk memperlambat upload video dan foto untuk menghindari penyebaran berita bohong di masyarakat. Supaya tidak terkena dampak, banyak pengguna medsos mencoba menggunakan VPN.

Padahal, VPN gratis yang terinstal di perangkat seluler pengguna berpotensi membahayakan informasi pribadi pengguna. Oleh karena itu, Kemenkominfo mengimbau pengguna untuk segera menghapusnya.


Editor : Ranto Rajagukguk