Modal Asing Masuk, Rupiah Mulai Menguat

Antara ยท Jumat, 03 April 2020 - 18:58 WIB
Modal Asing Masuk, Rupiah Mulai Menguat

Kurs rupiah menguat terhadap dolar AS. (Foto: Ant)

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS perkasa pada penutupan perdagangan Jumat (3/4/2020) sore. Menguatnya rupiah setelah modal asing mulai kembali masuk.

Mengutip Bloomberg, rupiah berada di Rp16.430 per dolar AS, menguat 65 poin atau 0,39 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.495 per dolar AS.

Kurs rupiah dibuka menguat di Rp16.445 per dolar AS dan terus menguat. Kendati begitu, sejak awal tahun, mata uang Garuda masih terdepresiasi 18,49 persen atas greenback.

Data Reuters menunjukkan kurs rupiah menguat 80 poin atau 4 persen ke Rp16.390. Mata uang Garuda bergerak dalam kisaran 16.390-16.642 sepanjang perdagangan.

Berdasarkan data kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) hari ini, kurs rupiah berada di level Rp16.646. Angka tersebut lebih baik dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.741

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rendahnya suku bunga di AS, Eropa, dan Asia, menjadi daya tarik tersendiri untuk Indonesia.

"Apalagi suku bunga masih relatif tinggi sehingga sangat wajar kalau pelaku pasar kembali yakin terhadap prospek pasar keuangan dan perekonomian domestik," kata Ibrahim.

Hal tersebut terlihat dari mulai masuknya aliran modal asing (inflow) ke Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Data Bank Indonesia (BI) pada periode 30 Maret-2 April 2020, terjadi beli bersih (net buy) di pasar keuangan domestik sebesar Rp3,28 triliun.

Aliran modal masuk tersebut dominan berasal dari pembelian Surat Berharga Negara (SBN). Inflow dari SBN tercatat Rp4,09 triliun, sedangkan di pasar saham pada periode tersebut masih terjadi net sell (outflow) Rp820 miliar.

Data aliran modal masuk itu menandakan bahwa kepanikan investor akibat wabah Covid-19 semakin berkurang.

"Masuknya dana ke Indonesia ini mengartikan ada secercah harapan karena kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah, BI, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan keyakinan kepada pasar," ujar Ibrahim.

Editor : Rahmat Fiansyah