Mudik Lebaran 2019, KAI Pastikan Tak Ada Tiket Tambahan

Rully Ramli ยท Selasa, 14 Mei 2019 - 21:48 WIB
Mudik Lebaran 2019, KAI Pastikan Tak Ada Tiket Tambahan

PT KAI tak akan mengeluarkan tiket tambahan meski minat pemudik untuk menggunakan kereta api besar saat Lebaran. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Mahalnya tiket pesawat jelang hari raya Idul Fitri, diperkirakan membuat penumpang yang biasanya menggunakan pesawat untuk mudik beralih menggunakan moda transportasi lain. Melihat adanya potensi peralihan penumpang tersebut, PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) memastikan tidak ada akan mengeluarkan tiket tambahan.

Direktur Utama KAI Edi Sukmoro mengakui bahwa memang ada potensi peralihan pemudik dari pesawat ke kereta api (KA). Namun, pihaknya memastikan tidak akan kembali menambah perjalanan KA, sehingga para pemudik harus menyesuaikan dengan ketersediaan tiket yang masih ada.

"Pastinya ada (potensi kenaikan) tapi menurut saya enggak signifikan. Artinya, kalau KA tergantung bangku yang tersedia. Kalau bangkunya sudah terbeli habis kita enggak bisa memaksakan untuk ditambah, karena enggak ada sekarang yang berdiri di KA," tutur Edi di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Edi menjelaskan, KA memiliki sistem penambahan armada yang berbeda dengan pesawat. Menurut dia, maskapai dapat meminjam pesawat dari luar negeri apabila terdapat potensi kenaikan penumpang.

"Kalau KA kan enggak seperti pesawat terbang. Kalau kurang dia bisa sewa dari Singapura, terbang ke sini. Kalau kereta kan gimana ngangkutnya dari luar negeri? Jadi armada yang sudah dikerahkan ini sudah abis," tutur dia.

Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah itu menambahkan, sebelumnya pihaknya sudah menambah 50 KA tambahan untuk beberapa lokasi favorit. Adapun lokasi-lokasi favorit antara lain Cirebon, Semarang, Yogyakarta hingga Surabaya.

"Tiket tambahan udah dijual H-60 (Idul Fitri). Itu adalah 50 perjalanan kereta api," ucapnya.

Sebagai informasi, 50 kereta tambahan selama Lebaran 2019 terdiri dari 27 kereta eksekutif dan bisnis, 11 ekonomi non-Public Servi Obligation (PSO), empat ekonomi PSO, dan delapan kereta yang memanfaatkan rangkaian idle.


Editor : Ranto Rajagukguk