Pandemi Covid-19, Permintaan Batu Bara Diprediksi Turun 85 Juta MT pada 2020

Djairan ยท Selasa, 30 Juni 2020 - 15:12 WIB
Pandemi Covid-19, Permintaan Batu Bara Diprediksi Turun 85 Juta MT pada 2020

APBI memperkirakan permintaan (demand) batu bara global akan turun hingga 85 juta metrik ton (mt) pada 2020. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memperkirakan permintaan (demand) batu bara global akan turun hingga 85 juta metrik ton (mt) pada 2020. Hal ini seiring dampak pandemi Covid-19 yang memukul sektor perekonomian.

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia menyebut, keadaan tersebut karena melemahnya permintaan dari pasar utama, terutama dua negara pengimpor batu bara terbesar, yaitu China dan India. Akibat kebijakan lockdown, permintaan batu bara China hingga saat ini hanya 190 mt.

Itu artinya turun hingga 10,3 mt dari permintaan sebelum adanya Covid-19 sebesar 200,3 mt. Sementara itu, jumlah permintaan batu bara oleh India mengalami penurunan yang paling besar. 

Permintaan batu bara saat ini tercatat 140 mt, turun 40 mt dari jumlah permintaan sebelum adanya corona, yaitu pada Januari 2020 sebesar 180 mt. “Berdasarkan data kami, tentu ini menjadi demand yang turun di level terendah, bahkan beberapa analis ada yang mengatakan bahwa penurunan demand global di 2020 ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah,” ujar Hendra dalam diskusi publik Selasa (30/6/2020).

Dia menilai, turunnya permintaan batu bara di tengah pandemi Covid-19 juga makin mengkhawatirkan seiring dengan jumlah produksi dalam negeri yang tetap tidak berubah sehingga oversupply. Untuk itu, kepentingan untuk mengendalikan produksi komoditas batu bara menjadi semakin penting.

“Tentunya ini juga terkait dengan supply-nya yang masih kuat, sementara di demand-nya masih menurun terus. Kondisi oversupply ini juga diiringi kekhawatiran dari second wave atau gelombang kedua pandemi nantinya, makas estimasi penurunan permintaan ini akan bisa lebih besar lagi. Tapi kita berharap mudah-mudahan itu tidak terjadi,” kata dia. 

Editor : Ranto Rajagukguk