Penerimaan Cukai Plastik pada 2019 Ditarget Rp500 Miliar

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Selasa, 18 Desember 2018 - 14:26 WIB
Penerimaan Cukai Plastik pada 2019 Ditarget Rp500 Miliar

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah menargetkan penerimaan sebesar Rp500 miliar dari cukai plastik dalam Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) 2019. Angka ini masih sama besarnya dengan periode tahun ini.

Sekertaris Kemenko Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, kebijakan penerapan cukai untuk kemasan plastik sudah digulirkan sejak lama. Bahkan pada 2017, target penerimaannya hingga Rp1 triliun.

"Di 2017 malah sudah disiapkan target penerimaannya Rp1 triliun di APBN. Di 2018 disiapkan Rp500 miliar, dan tahun depan juga sama Rp500 miliar untuk cukai plastik," ujarnya di kantornya, Jakarta, Selasa (18/12/2018).

Menurut dia, baik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) telah menargetkan penerimaan cukai menjadi lebih dominan di antara penerimaan lain. Namun, hal ini masih menunggu Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri Keuangan.

"Kalau kita lihat dari alokasi ini, di 2019 target cukai Rp165,5 triliun, setengah triliun hanya target untuk plastik. Artinya BKF menyadari betul ada aspek yang harus dijaga perimbangannya," ucapnya.

Pemerintah menyiapkan pengenaan cukai terhadap kantong plastik karena secara sifat dan karakteristik plastik masuk dalam kategori dipungut cukai. Kantong plastik masuk ke dalam kategori barang yang perlu dikendalikan untuk dikonsumsi, pengawasan terhadap peredaran, pemakaiannya bisa timbulkan dampak negatif, dan perlu dibebani pungutan.

"Jadi cukai bukan semata untuk penerimaan. Tapi tujuan utamanya adalah pengawasan produksi, dan pemakaiannya menimbulkan dampak negatif. Ini lumayan tepat untuk produk plastik," tuturnya.

Menurut dia, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terdapat 9,8 miliar lembar kantong plastik yang menjadi sampah tiap tahunnya. Sampah ini dapat mencemari lingkungan selama lebih dari 400 tahun.

"Dari jumlah ini hanya 5 persen yang bisa didaur ulang. Sisanya menguasai hampir 50 persen lahan TPA, dan butuh waktu lebih dari 100 tahun untuk terurai," kata dia.

Editor : Ranto Rajagukguk