Perang Dagang AS-China, Ekonom Bank Mandiri: Tidak Ada Solusi yang Win Win

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Rabu, 15 Mei 2019 - 21:03 WIB
Perang Dagang AS-China, Ekonom Bank Mandiri: Tidak Ada Solusi yang Win Win

Tensi perang dagang kembali meningkat menyusul langkah Amerik Serikat (AS) yang menaikkan tarif impor terhadap barang-barang asal China. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, iNews.id - Perang dagang beberapa waktu lalu terlihat akan segera menemui titik akhir. Namun, karena Amerika Serikat (AS) menaikkan tarif barang impor atas China, tensi perang dagang pun kembali meningkat.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, melihat hal tersebut maka tidak ada jalan keluar yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Namun, jika terus berlanjut maka bisa menurunkan pertumbuhan ekonomi kedua negara tersebut.

"Menurut kami tidak ada solusi yang win win dari trade war ini, dua-duanya akan lose lose. Kalau berlanjut kedua negara akan alami pertumbuhan ekonomi yang buruk dari proyeksi yang ada," ujarnya di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Bahkan, tak hanya merugikan kedua belah pihak, perang dagang yang berkepanjangan ini juga berpotensi melambatkan pertumbuhan ekonomi global. Oleh karenanya, diharapkan AS dan China bernegosiasi dengan damai hingga mencapai titik temu.

"Trade war-nya diharapkan ada persetujaun dan jalan tengah. Harapannya keduanya kembali duduk dan bahas perang dagang," kata dia.

Bagi Indonesia perang dagang ini berpotensi menyebabkan arus modal keluar ke instrumen investasi safe haven. Hal ini ditandai dengan menurunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta meningkatnya imbal hasil surat berharga negara (SBN) bertenor 10 tahun.

IHSG pada penutupan 14 Mei 2019 ditutup melemah sebesar 1,1 persen menjadi 6.071 atau turun 6 persen secara month to date dan turun 2 persen secara year to date. Sementara, imbal hasil SBN bertenor 10 tahun naik sebesar 1,2 bps menjadi 8,05 persen atau naik 22,5 bps mtd dan naik 2,8 bps ytd.

"Menurut kami volatilitas nilai tukar tersebut hanya bersifat sementara dan kami memprediksi pada akhir tahun ini nilai tukar rupiah akan berada pada kisaran Rp14.248 per dolar as," tuturnya.


Editor : Ranto Rajagukguk