Percepat Energi Baru Terbarukan, Pemerintah Siapkan Perpres

Djairan ยท Minggu, 02 Agustus 2020 - 15:04 WIB
Percepat Energi Baru Terbarukan, Pemerintah Siapkan Perpres

Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah tengah menggodok rancangan peraturan presiden (Perpres) yang akan mengatur harga listrik bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT). Langkah tersebut sebagai terobosan kebijakan pemerintah untuk membangun kepercayaan investor menjalankan bisnis energi bersih tersebut melalui pengaturan skema harga yang kompetitif.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM FX Sutijastoto mengatakan, Rancangan Perpres EBT ini telah mendapat dukungan penuh dari para pengusaha terkait. Hal ini, lanjutnya, ditunjukkan dengan adanya sinergi komunikasi bersama mereka selama proses penyusunan regulasi Perpres itu.

"(Rancangan Perpres EBT) ini kami susun bersama-sama dengan para pelaku usaha. Kami komunikasikan dan melakukan benchmark terhadap proyek-proyek yang ada. Fasilitasi ini diharapkan mendukung pendanaan bagi dunia usaha mereka," kata Sutijastoto dalam keterangannya, Minggu (2/8/2020).

Mengenai target penyelesaian beleid tersebut, menurut dia, Kementerian ESDM terus berkomunikasi dengan kementerian terkait agar Rancangan Perpres EBT ini cepat diselesaikan. "Sedang dibahas antarkementerian. Ya, semoga sebelum akhir tahun sudah selesai," ujarnya.

Sutijastoto juga mengatakan, saat ini Peraturan Menteri ESDM belum cukup menstimulus lahirnya kontrak-kontrak EBT yang baru. "Makanya, untuk membangun level kompetitif, harga EBT nanti ditentukan melalui Perpres EBT. Ini sangat penting," ujarnya.

Pengoptimalan pasar EBT di Indonesia, lanjutnya, menjadi tantangan tersendiri mengingat skala keekonomian sering kali dianggap kurang kompetitif yang ditandai dengan tingginya harga beli EBT. "Pabrikan-pabrikan PLTS di kita itu, baru pabrikan solar panel. Itu pun kapasitasnya kecil-kecil, paling besar 100 Mega Watt (MW). Apalagi, bahan bakunya masih impor, akibatnya harganya menjadi cukup tinggi," tuturnya.

Sebagai perbandingan, Sutijastoto mengungkapkan, harga PLTS di Indonesia masih mencapai satu dolar AS per Watt peak, sementaraTiongkok sudah di level 20-30 sen dolar AS per Watt peak dengan kapasitas antara 500 MW hingga 1.000 MW. "Semoga dengan Perpres ini market kita bisa makin berkembang," ucapnya.

Editor : Ranto Rajagukguk